by

Warga Tengah-Tengah Masih Trauma

Jalan Rawan Longsor
Ambon, BKA- Masyarakat Negeri Tengah-Tengah, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), hingga saat ini masih menyimpang trauma terhadap peristiwa gempa bumi 26 September 2019 lalu.

Sisa-sisa trauma itu terlihat jelas saat warga negeri itu akan menuju Negeri Tulehu, Kecamatan Salahutu, tepatnya saat akan melintasi badan jalan yang pernah ditimpa reruntuhan longsor pada peristiwa gempa saat itu.

Namun tidak ada pilihan lain bagi warga Negeri Tengah-Tengah selain melintasi jalan itu, kalau ingin ke Tulehu atau pun menuju Kota Ambon.

Memang ada alternatif jalan lain. Tapi jaraknya dirasakan sangat jauh, hampir dua kali lipat. Sehingga mereka tetap melalui jalan itu sebagai jalan utama keluar-masuk negeri, walau dengan hati yang was-was.

Pantauan BeritaKota Ambon sekitar pukul 16.05 WIT dilokasi, terlihat masyarakat yang akan melalui jalan itu untuk keluar maupun masuk ke negeri itu, sangat berhati-hati. Karena memang jalan itu semakin sempit dibanding sebelumnya gempa.

Satu sisi jalan terdapat tebing, sedangkan sisi lainnya terdapat jurang yang curam. Apalagi tidak ada pengaman jalan. Sehingga warga dituntut ekstra hati-hati saat melintas.

Esktra hati-hati itu semakin meningkat ditengah kondisi musim hujan. Karena selain dari arah tebing akan mengalir air yang bercampur tanah atau material bekas longsoran. Sehingga jalan semakin licin.

Salah satu pemuda Negeri tengah-Tengah, Resa, mengungkapkan, setiap kali melintas tepat dibekas reruntuhan pasca gempa itu, dia sangat khawatir.

Bukan dia saja. Tapi menurutnya, semua warga negeri itu sangat khawatir. Tapi tidak ada pilihan, selain harus melewati jalan itu. Padahal, tebing disisi jalan itu dinilai sudah sangat rawan longsor. Apalagi pada saat hujan seperti yang terjadi beberapa waktu ini.

Untuk itu, dia berharap, ada perhatian dari Pemerintah Provinsi Maluku maupun Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah untuk mengatasi kekhawatiran masyarakat itu.

“Mungkin hal ini bisa secepatnya dilihat pemerintah. Karena kita tidak tahu kapan akan terjadi longsor. Lihat saja gunung itu sudah retak-retak. Apalagi musim hujan seperti sekarang. Itu saja yang harapkan,” pungkas Resa.(BKA-1)

Comment