by

120 Ton Emas Keluar Gunung Botak Lewat Black Market

beritakotaambon.com – Asosiasi Petambang Rakyat Indonesia (APRI) mencatat, sebanyak 120 ton emas yang telah keluar dari kawasan tambang Gunung Botak, Kabupaten Buru.

Sekertaris Jendral (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) APRI, Imran Safi Malla, mengungkapkan, APRI bersama Kementerian Lingkungan Hidup pernah mendata aktivitas penambangan rakyat atau Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) di Pulau Buru, dari Agustus 2012 sampai dengan Maret 2015.

Hasilnya, sebanyak 120 ton emas yang telah keluar dari Pulau Buru. Kalau hal itu diuangkan waktu itu, maka mencapai Rp 60 triliun.

“Emas yang keluar dari Pulau Buru sudah sekitar 120 ton. Kalau 120 ton dengan harga emas waktu itu, dibeli dengan harga sekitar Rp 500 ribu per gram. Jadi 120 ton berarti sekitar Rp 60 triliun, yang sudah keluar dari Pulau Buru. Dan itu pemerintah daerah tidak dapat, negara apalagi,” kata Imran, kepada BeritaKota Ambon, Sabtu (21/8).

Tentu saja, lanjutnya, hal itu sangat miris karena kawasan tambang ilegal yang terletak di Desa Persiapan Wamsait, Kecamatan Waelata, telah dicemari sianida dan merkuri, sehingga merusak lingkungan.

Sebelumnya, kawasan itu banyak ditumbuhi tanaman kayu putih yang menjadi ikon Kabupaten Buru. Kawasan itu juga ditumbuhi pohon sagu yang menjadi makanan pokok masyarakat setempat.

Lanjutnya, 120 ton emas yang keluar dari Pulau Buru tersebut melalui jalur tikus atau pasar gelap (black market). Muaranya di Singapura dan Hongkong.

Baca juga: Maluku Jadi Prioritas Pembangunan Presiden

“Jadi emas itu keluar dari Pulau Buru melalui black market atau pasar gelap, itu larinya ke luar negeri. Jadi kami sudah telusuri dan itu dia (emas hasil dari Gunung Botak) lari ke Singapura, Hongkong dan negara tidak dapat apa-apa. Kalau kita sudah bicara black market sudah repot itu, karena siapa-siapa yang terlibat,” ujar Imran.

Sekjen APRI itu mengatakan, dari 2015 sampai dengan 2021 tidak pernah lagi mencatat jumlah emas yang keluar dari Kabupaten Buru.

“Kalau dari 2015 sampai sekarang itu belum pernah dicatat, karena aktivitas di Gunung Botak sering jalan, sering macet. Kalau yang dulu kan lancar, jadi kita mampu mendeteksi di tengkulak-tengkulak (pembeli emas hasil gunung botak). Waktu itu ada 50 tengkulak dari 2012 sampai 2015,” kata dia.

Sementara itu, dia menyebutkan merkuri yang mencemari kawasan tambang emas ilegal gunung botak sejak 2012 sampai dengan 2015 sekitar 30 ribu ton. “Dengan pencemaran merkuri 30.200 ton, itu sudah tercemar atau sudah terpapar di tanah,” ungkapnya.

Imran menambahkan, karena dua permasalahan tersebut pemerintah mengandeng APRI, untuk bersama-sama mencari solusi.

Salah satu solusi yan ditawarkan APRI, yakni, mencari pengganti merkuri dan sianida sebagai bahan pengelola emas.

Baca juga: APRI Masih Uji Coba WS Pengganti Merkuri dan CN

“Jadi pada prinsipnya, kehadiran APRI disini (Pulau Buru) lebih mengedepankan solusi. Kita bicara lingkungan dulu, tambang itu gampang, menambang itu gampang, sekarang kita menjaminkan lingkungan. Kalau lingkungan sudah terjamin, pemerintah juga pasti ambil sikap untuk mengeluarkan izin untuk tambang rakyat,” pungkasnya.(MSR)

Comment