by

500 Diaspora RI di AS Jadi Korban Investasi Bodong

Lebih dari 500 diaspora Indonesia di Amerika Serikat mengadu telah menjadi korban investasi bodong berskema piramida atau ponzi. Investasi ini memberi iming-iming keuntungan sebesar 12 persen sampai 73 persen.
Salah satu korban bernama Gunawan Widjaja mengisahkan tawaran investasi ini mulanya diketahui dari media sosial Facebook melalui grup Hibachi dan Pondok Gaul. Setelah mengetahui informasi investasi, ia pun menghubungi salah satu kontak yang tertera, yaitu Immanuel Jaya pada 19 Oktober 2019.
“Saya tergiur karena program itu menawarkan bunga 18 persen per bulan,” ucap Gunawan seperti dilansir dari VOA, Rabu (16/6).
Berbeda dengan Gunawan, Steven Caraballo, mahasiswa di New York University yang juga menjadi korban investasi bodong ini mengaku awalnya tahu investasi ini dari istri dan teman-teman istrinya. Saat itu, ia dijanjikan keuntungan sekitar 15 persen ditambah 2 persen bila berhasil mengajak orang lain untuk bergabung dalam investasi ini.

“Untuk pertama kali, saya menerima bunga dari US$4.000 yang saya berikan. Saya yakin ini cara mereka meraih kepercayaan kami. Jadi pertama kali saya mendapat uang yang saya berikan ditambah bunganya. Tetapi ketika saya mulai menanamkan lebih banyak uang, saya tidak mendapat apapun. Total kerugian saya US$55 ribu,” kata Steven.

Atase Kepolisian di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington DC Ary Laksmana Widjaja mengatakan saat ini kasus ini telah diteruskan ke Biro Penyidik Federal (FBI).
“Kami sudah menyampaikan informasi awal pada penegak hukum di Amerika, dalam hal ini FBI, juga mengkoordinasikan laporan-laporan yang masuk,” ungkap Ary.

Ia menjelaskan tawaran investasi ini sebenarnya sudah terjadi sejak 2019, namun tanda-tanda ‘bodong’ baru ditemukan pada tahun ini.

Seperti skema ponzi umumnya, investasi ini menjanjikan keuntungan kepada setiap anggota. Keuntungan akan bertambah bila anggota bisa mengajak orang lain untuk masuk ke dalam skema investasi ini.

Diketahui, ada dua perusahaan investasi bodong yang beroperasi, yaitu Global Travel dan Easy Transfer. Keduanya merupakan perusahaan yang dikelola oleh kakak beradik diaspora Indonesia di AS, tapi identitas perusahaan dan jenis investasinya tidak dijelaskan ke anggota.

Mereka menawarkan investasi dalam bentuk uang tunai dan tidak menggunakan bank atau perjanjian resmi dari notaris. Perjanjian keuntungan diberikan dalam angka yang berbeda-beda ke masing-masing anggota.

Ary memperkirakan total kerugian para korban mencapai US$5.000 sampai US$10 ribu per orang. “Tampaknya kecil, tapi jika yang melaporkan banyak, maka akan tampak bahwa secara keseluruhan kasus ini besar dan aparat akan bertindak lebih cepat untuk mencegah lebih banyak korban yang jatuh,” jelasnya.

Lebih lanjut, saat ini FBI menduga kedua kakak beradik masih berada di AS, tepatnya kawasan Elmhurst. Namun, penyelidikan masih terus dilakukan.

CNNIndonesia.com turut mengonfirmasi kabar ini kepada Pendiri sekaligus Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal. Namun belum ada tanggapan hingga berita ini diturunkan. (INT)

Comment