by

75 Persen Sekolah Berada di Daerah Rawan Bencana

BNPB-MDMC-HW Gelar SPAB

Ambon, BKA- Sesuai data InaRISK yang terintegrasi dengan Dapodik-Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), mencatat lebih dari 75 persen sekolah di Indonesia berada pada daerah rawan bencana. Termasuk sejumlah sekolah yang berada Kota Ambon, Provinsi Maluku.

Untuk itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan Hizbul Wathan (HW), menggelar kegiatan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) bagi seluruh sekolah yang berada dibawah naungan Yayasan Muhammadiyah, Kamis (10/12).

Kegiatan yang dipusatkan di SD Muhammadiyah Ambon tersebut, menghadirkan sejumlah peserta yang berasal dari perwakilan guru SD, SMP, dan SMA/SMK Muhammadiyah serta BPBD Kota Ambon.

Para peserta itu akan dibekali dengan sejumlah pengetahuan agar dapat menjadi fasilitator SPAB, bagi sekolah Muhammadiyah lainnya maupun pihak lain di Maluku, khususnya Kota Ambon.

Direktur Mitigasi Bencana BNPB, Lilis Siti Mutmainnah, menjelaskan, SPAB yang dilakukan lewat kerja sama tersebut mencakup implementasi bimbingan teknis (Bimtek) dan penyusunan materi Bimtek, yang dimulai dari modul, petunjuk teknis, hingga buku saku untuk pembelajaran murid di sekolah Muhammadiyah, khususnya peserta didik kepanduan Hizbul Wathan.

Dengan kegiatan tersebut, pihaknya berharap, MDMC dan HW dapat mengadopsi secara mandiri SPAB berbasis HW di seluruh sekolah Muhammadiyah di Indonesia, khususnya di Kota Ambon, Provinsi Maluku. Karena berdasarkan catatan BNPB, Kota Ambon termasuk salah satu daerah rawan bencana. Sehingga, sangat penting untuk melakukan kegiatan SPAB.

“Hari ini sebenarnya sebagai praktek edukasi dari materi yang sudah dilaksanakan di Bimtek sebelumnya. Jadi para peserta ini mendapatkan Bimtek dari BNPB untuk fasilitator, dan hari ini para peserta kita uji coba untuk mempraktekkan apa saja materi yang didapatkan untuk di transfer ke para guru SMA/SMK, SMP maupun SD Muhammadiyah. Dengan harapan, SPAB yang dilakukan ini terinformasikan. Bahwa fasilitator dapat menjadi agen perubahan untuk kepanjangan tangan dari PNBP dan BPBD, untuk bisa mensosialisasikan terkait kesiagaan bencana di sekolah-sekolah di kota Ambon. Saat ini, fokus kami Kota Ambon saja, karena kota Ambon menjadi salah satu target prioritas nasional tahun 2020 yang sudah ditentukan dari hasil Musrenbang awal tahun,” jelas Mutmainnah, disela-disela kegiatan SPAB tersebut.

Menurutnya, selain komunitas maupun pihak terkait, sekolah juga menjadi sasaran utama dari program SPAB tersebut. Sebab sekolah merupakan tempat belajarnya generasi penerus bangsa, yang dari kakapasitasnya, mereka belum siap terkait kesiapsiagaan terhadap bencana.

“Karena BNPB saat ini juga sedang mengembangkan pasar tangguh bencana, program keluarga tangguh bencana, desa tangguh bencana dan juga program lainnya. Namun saat ini, yang kami lakukan di Kota Ambon adalah di sekolah. Kenapa, karena sekolah itu adalah tempatnya para generasi mudah kita yang notabenenya jumlahnya banyak, tapi yang mengawasinya hanya mungkin beberapa guru yang belum tentu mereka semua paham soal kebencanaan. Sehingga dengan kita lebih fokus ke sekolah, kita bisa mentransfer informasinya itu mungkin bisa berjenjang, dari satu generasi ke generasi lainnya. Yang dari hasil penelitian, para siswa juga diketahui kelompok yang termasuk kelompok rentan yang mungkin pemahaman dan kapasitas belum mumpuni soal bencana, kecuali mungkin mereka teredukasi terus menerus,” terangnya.

ditempat yang sama, Ketua bidang KOL Kwartir Pusat HW, Edy Prajaka, mengatakan, kegiatan SPAB yang dilakukan itu untuk menyiapkan anak-anak didik, khusus pada sekokah Muhammadiyah.
“Karena memang sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Muhammadiyah, proses pembelajarannya juga mengarah kepada kebencanaan maupun persoalan sosial lainnya, yang termuat dalam pembelajaran ekstrakulikuler. Sehingga pihaknya merasa penting untuk bekerjasama dengan pihak BNPB, guna menyiapkan anak-anak didik untuk kedepannya lebih siap siaga ketika adanya bencana,” pungkas Prajaka. (LAM)

Comment