by

Ambon Belum Bisa Terapkan BTM Sistim Zona

Ambon, BKA- Proses Pembelajaran Tatap Muka (BTM) dengan menggunakan sistim zona, belum bisa diterapkan di Kota Ambon dan sekitarnya.

Ketua Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN SM) dan Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IAIN Ambon, Dr. Abidin Wakano, mengatakan, meskipun panduanya telah dikeluarkan lewat Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri, yakni, Menteri Pendidikan dan Kebudaan (Mendikbud), Menteri Agama (Menag), Menteri Kesehatan (Menkes) dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) tentang panduan Belajar Tatap Muka (BTM) dengan menggunakan sistim zona. Namun hal itu belum bisa diterapkan di Kota Ambon dan sekitar.

Dia beralasan, secara geografis, luas wilayah Kota Ambon terlau kecil, sehingga sangat mudah atau rentang dengan penyebaran virus. Walau memang tidak semua wilayah di Kota Ambon berstatus zona merah.

“Kalau bagi saya, sangat dilimatis. Kalau dibilang Kota Ambon miliki zona merah, orange dan hijua, tetap belum bisa berlakukan BTM. Soalnya Ambon ini kota kecil dan padat, bahkan anak maupun guru juga tidak tinggal dalam satu wilayah tertentu,” ungkap Wakano.

Menurutnya, sekolah bisa saja berada pada zona hijau, tapi bisa saja siswa maupun guru datang dari zona lain, yakni, zona merah atau orange. Sehingga agak rumit untuk memecahkan masalah ini, apalagi dimasa transisi saat ini untuk mencari adaptasi yang pasti.

Tapi yang sangat dibutuhkan, katanya, adalah sebuah kepastian, apa yang menjadi kebutuhan. Seperti bantuan-bantuan kepada masyarakat untuk menopang kesejahteraan masyarakat yang harus benar-benar tepat sasaran, termasuk bantuan bagi fasilitas siswa.

Untuk itu, pihak sekolah juga harus bisa memastikan, apakah semua siswa itu sudah mendapat bantuan dan apakah sudah digunakan dengan sebagaimana mestinya atau belum, termasuk masalah bagi siswa yang tidak memiliki HP Android untuk belajar Daring.

Selain itu, lanjut Wakano, dari sisi pembelajaran, peningkatan kapasitas tenaga pendidik juga harus ditingkatkan kualitasnya, agar semakin kreatif dalam memberikan pembelajaran secara Daring.

Kualitas pembelajaran Daring jangan sampai ambruk, sehingga harus dicari format yang menarik dan tepat. Hal itu bisa dilakukan apabila guru memiliki ketrampilan untuk menyajikan materi yang lebih praktis dan komprehensif.

“Kita mengenal pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan nenyenangkan atau Pakem secara Luring, selama belun pandemi. Maka sekarang yang diterapka adalah Pakem yang inovatif, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan itu secara Daring. Sehingga guru harus lebih kreatif lagi dalam mengelola pembelajaran,” terangnya.

Siswa tingkat dasar, terangnya, tentu memiliki pola piki yang berbeda dengan siswa yang duduk di bangku SMP maupun SMA/SMK dan MA. Sehingga pola pembelajarannya juga tentu harus berbeda. Sehingga perlu Pakem yang betul, agar siswa bisa menerima pembelajaran Daring maupun
Luring dengan baik.

“Terkadang di masa normal saja kurang maksimal, apalagi dengan pandemi ini, yang pembelajaran dilakukan secara Daring. Jadi dituntut adanya sebuah peningkatan kapasitas dan ketrampilan para guru juga,” pungkas Wakano.(RHM)

Comment