by

Ambon Masih Miskin Air Bersih

Ambon, BKA- Air bersih masih menjadi salah satu masalah yang dirasakan masyarakat Kota Ambon, terutama di sebagian wilayah Kecamatan Sirimau maupun Nusaniwe.

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) maupun PT Dream Sukses Airindo (DSA), belum mampu menyuplai air bersih setiap hari bagi masyarakat yang ada.

Meskipun cuaca belakangan ini sering terjadi hujan, namun pelayanan air bersih dari dua perusahaan daerah di kota Ambon ini masih terbilang belum maksimal. Padahal masyarakat selaku pelanggan, rutin membayar tagihan air setiap bulan.

Bahkan sebagian masyarakat di Kecamatan Sirimau, hingga saat ini masih bergantung pada mobil tangki air yang dibeli seharga Rp150.000 hingga Rp 200.000 per tangki, untuk memenuhi kebutuhan setiap hari.

Data yang dimiliki koran ini, persoalan krisis air bersih sudah terjadi sejak awal tahun 2020. Sebagian masyarakat sempat panik ketika pandemi Covid-19 melanda kota bertajuk Manise ini. Dimana masyarakat sebelumnya dibatasi agar tidak keluar rumah, sementara pasokan air bersih dari PDAM dan PT DSA mengalir 2 hingga 3 kali dalam seminggu. Bahkan ada yang satu minggu, hanya mengalir 1 kali.

Sejumlah anggota DPRD Kota Ambon sendiri, berulang kali telah menyuarakan persoalan ini kepada Pemerintah Kota Ambon. Naasnya, Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, belum mengevaluasi kinerja dari PDAM dan PT DSA yang masih dipimpin oleh Apong Tetelepta.

Apong Tetelepta bahkan pernah dipanggil Komisi II DPRD Kota Ambon sekitar Mei 2020 lalu. Pemanggilan tersebut terkait krisis air bersih yang dialami sebagian besar masyarakat Kecamatan Sirumau maupun Nusaniwe.

Apong berdalih, krisis air bersih yang terjadi karena kondisi cuaca saat itu sementara memasuki musim kemarau. Dan debit air akan bertambah ketika memasuki musim hujan, sehingga pelayanan air bersih akan kembali normal.

Namun hingga saat ini, krisis air bersih masih dirasakan sebagian warga.
“Air PAM masih sama. Kadang 2 atau 3 hari sekali baru jalan. Makanya banyak di sini harap mobil tangki air. Satu tangki ada yang 180 sampai 200 ribu. Sementara tiap bulan katong (kita) bayar air PAM rutin,” kesal Fani Naura, salah satu warga Kebun Cengkeh, Kecamatan Sirimau, saat dikonfirmasi koran ini, Senin (28/12).

Dia berharap, ada upaya dari Pemerintah Kota Ambon untuk bisa memperbaiki krisis air bersih yang dirasakan masyarakat saat ini. Sehingga masyarakat tidak seterusnya membeli air untuk kebutuhan sehari-hari.

“Air ini kan kebutuhan penting, kalau bisa ada solusi dari perintah. Alasan waktu itu karena cuaca musim kemarau, tapi saat musim bujan kemarin juga sama. Malahan warga disini pakai air hujan untuk mencuci,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Norma, salah satu warga Kelurahan Pandan Kasturi, Kecamatan Sirimau. Diakuinya, air PAM yang selama ini digunakan belum juga mengalir setiap hari. Sementara pembayaran tagihan air rutin dibayar setiap bulan.

“Katong (kita) bayar air rutin, tapi ini jalan dua hari satu kali. Kadang juga tiga kali satu hari. Untuk ada bak penampung, kalau tidak ada pasti bali air dari mobil tangki. Jadi sampai sekarang air belum jalan normal, sementara tagihan tiap bulan katong bayar,” heran dia.

Tempat terpisah, Anggota Komisi II DPRD Kota Ambon, Jafri Taihutu, saat dikonfirmasi mengaku, persoalan air bersih ini akan disampaikan ke internal komisi, untuk nantinya memanggil kembali Apong Tetelepta sebagai Direktur PDAM sekaligus PT DSA.

“Belakangan ini belum ada keluhan soal air bersih. Dulu memang persoalan krisis air bersih ini kita sudah undang PDAM dan DSA. Tapi nanti kita akan sampaikan ke teman-teman komisi untuk memanggil PDAM dan DSA. Nanti kita akan tanyakan lagi soal ketersediaan air bersih. Karena memang sebelumnya itu masih banyak warga yang mengeluhkan air bersih,” pungkas Politisi PDIP ini. (UPE)

Comment