by

AN Diundur September, Suat: Memang Butuh Persiapan

Ambon, BKA- Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk menunda pelaksanaan Assesmen Nasional (AN) sebagai pengganti Ujian Nasional (UN), dinilai sebagai langkah tepat oleh Kepala SMP Negeri 2 Ambon, Gani Suat.

Apalagi, katanya, saat ini, secara nasional, pemerintah maupun masyarakat tengah disibukkan dengan upaya penanggulangan penyebaran Covid-19. Sehingga pelaksanaan AN mesti melalui persiapan yang matang.

Sebelumnya, pelaksanaan AN direncankan dilaksanakan pada Maret 2021. Namun kemudian ditunda hingga September mendatang.

Untuk itu, Suat sangat mendukung kebijakan Kemendikbud menunda pelaksanaan AN tersebut, sebagai upaya untuk mempermatang teknis maupun proses pelaksanaannya di tengah pandemi Covid-19.

“Karena AN ini adalah sistem baru yang akan mulai dilakukan tahun 2021, sehingga tidak bisa langsung jalan begitu saja. Perlu kesiapan yang maksimal, apalagi dijalankan ditengah pandemi. Saya rasa tidak mudah. Jadi penundaan AN di bulan September, bagi saya itu tepat. Supaya pada saatnya kita benar-benar siap ikut AN,” ujar Suat, Minggu (24/1).

Dia mengaku, terkait teknis pelaksanaan AN, banyak sekolah yang belum tahu. Padahal berdasarkan jadwal, sebenarnya pelaksanaan AN akan berlangsung di bulan Maret mendatang.

“Bahwa soal kuota AN, memang sudah diputuskan berdasarkan masing-masing jenjang pendidikan. Namun soal penentuan peserta, belum diketahui. Kan pemerintah pusat sudah membuat kebijakan mengambil sampel dari beberapa anak. Misalnya kelas 8 di SMP itu ada 45 orang, SD 30 dan SMA 50. Penentuan peserta pun bukan ditunjuk oleh sekolah, tapi acak. Jadi sekolah tinggal siapkan bagaiman menghadapi AN itu. Sebab katanya, AN nantinya akan dieveluasi. Jika baik akan dipakai untuk proses penilaian hasil belajar siswa nanti. Tapi selanjutnya, kita tidak tahu, karena di pusat yang atur. Intinya, kita harus siap dulu, baru lakukan AN, supaya hasilnya maksimal,” bebernya.

Suat berharap, AN yang merupakan peganti UN, dapat memberikan hasil yang sesuai dengan perkembangan mutu pendidikan di Indonesia. Dimana, bukan saja dapat mengevaluasi sistem pendidikan, tapi juga mampu menilai kualitas dari anak-anak bangsa.

“Kalau UN diganti, itu berarti didinilai tidak lagi sesuai tuntutan perkembangan jaman. Dan AN yang dinilai bisa menjawab kebutuhan pendidikan sekarang ini. Jadi sangat diharapkan, AN dapat disiapkan dengan baik, agar pelaksanaannya berjalan baik dan hasilnya memuaskan,” harap Suat. (LAM)

Comment