by

APRI Masih Uji Coba WS Pengganti Merkuri dan CN

beritakotaambon.com – Asosiasi Petambang Rakyat Indonesia (APRI) menilai bahwa penggunaan merkuri dan sianida di kawasan tambang emas Gunung Botak, Kabupaten Buru, berbahaya bagi masyarakat.

Untuk itu, APRI menawarkan obat pengganti merkuri dan sianida dengan bahan yang lebih ramah lingkungan, yakni, WS212.

Sekertaris Jendral (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) APRI, Imran Safi Malla, mengungkapkan, WS212 merupakan reagan pengganti sianida yang sudah food grade. Sehingga tidak mengandung racun seperti merkuri dan CN. Bahkan WS dapat dijilat oleh manusia. Efeknya, hanya mual pada perut. Tidak ada yang lain.

Selain itu, dengan menggunakan WS212, terangnya, masa ekstraksi emas yang dibutuhkan adalah 2,5 hari dan menghasilkan emas mencapai 98 persen.

Namun penggunaan WS masih terus dilakukan uji coba di Desa Dava, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru. Dan penggunaannya juga, kata Imran, belum mendapat izin dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI.

Proses uji coba WS di Desa Dava, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, Kamis (19/8)

“Proses legalitas kami sementara proses semua. Dan APRI sudah bekerja sama dengan Puslitbang Tekmira dan PSL Unpatti, dan yang sementara proses legalitas terkait izin AMDAL dan lain-lain itu diserahkan kepada Tim Pusat Studi Lingkungan Unpatti,” kata Imran, kepada BeritaKota Ambon, di lokasi uji coba WS, Kamis (19/8).

Imran menjelaskan, pada prinsipnya kegiatan ini, harus berani ambil sikap. “Persoalan Gunung Botak ini, yaitu, pada 2015 itu ditutup oleh presiden dengan isunya masalah merkuri. Nah, muncul lagi persoalan lingkungan, yaitu, sianida atau CN. Selain itu, lahirnya konvensi minamata, maka larangan penggunaan merkuri di tambang rakyat. Salah satu yang menjadi bahan sorotan adalah itu Pulau Buru,” ujar dia.

Sehingga kehadiran APRI di Pulau Buru, lanjutnya, untuk mengedukasi masyarakat dan melakukan uji coba terkait WS sebagai formula pengganti merkuri dan sianida.

“Pengangkatan sedimen merkuri dan pengelolaan emas berbasis lingkungan non mercury dan sodium cyanida yang sedang diuji coba, kami beri nama WS212 atau Wiro Sableng,” ungkapnya.

Baca juga: Banyak Tanah Pemprov Belum Bersertifikat

Untuk uji coba tersebut, pihaknya membutuhkan minimal 300 karung material atau limbah yang telah tercampur dengan mercuri. Karena sebelum memberikan edukasi kepada masyarakat, APRI harus memastikan kalau WS sudah bisa diterima oleh publik.

“Hari ini kami sudah mencoba memberikan semacam adraksi dan itu sudah berjalan 5 kali, sementra 2 kali itu belum normal. Tapi target kami, insya Allah dalam bulan ini sudah bisa normal. Dan kami sudah berani akan membuka launching kepada masyarakat,” pungkasnya.(MSR)

Comment