by

Ardian: Tersangka Akan Kembalikan Kerugian Negara

Dugaan Korupsi Dana BOS SMK 3 Malteng

Ambon, BKA- Setelah ditetapkan sebagai tersangka pada kasus dugaan tindak pidana korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun 2015-2017, Kepala SMK Negeri 3 Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) di Banda Neira, R.L, langsung dicecar sekitar 70 pertanyaan oleh tim penyidik yang dipimpin langsung Kacabjari Banda Neira, Ardian Junaedi.

Pemeriksaan terhadap R.L dilakukan seputaran pengelolaan dana BOS yang dia lakukan pada 2015-2019, yang mengakibatkan terjadi kerugian keuangan negara sebesar Rp 600 juta lebih, berdasarkan hitungan auditor BPKP Maluku-Malut.

“Jadi Selasa (8/12) lalu, kita periksa R.L yang berstatus sebagai tersangka. Dia didampingi kuasa hukumnya, Yunan Takaendengan Cs. Pemeriksaan mulai dari pukul 10.00-16.00 WIT, dengan jumlah pertanyaan kurang lebih 70 pertanyaan,” ungkap Ardian, ketika dihubungi Beritakota Ambon melalui selulernya, Jumat (11/12).

Mantan Kasi Pidum Kejari Kabupaten Probolinggo ini mengatakan, pada penyidikan tersebut tersangka sudah mengakui perbuatannya. Sehingga tengah berupaya untuk mengembalikan kerugian keuangan negara yang telah dilakukannya.

“Informasinya, tersangka akan kembalikan kerugian negara. Bagi saya, hal itu jauh lebih baik, supaya bisa meringankan hukumannya ketika di pengadilan nanti,” jelasnya.

Lanjutnya, sekalipun tersangka telah mengembalikan kerugian keuangan negara, tersangka akan tetap diproses hukum. Karena pengembalian kerugian negara, tidak menghilangkan unsur pidananya.

“Kan UU Korupsi pasal 4, tertulis jelas. Pengembalian kerugian negara tidak bisa menghilangkan perbuatan pidana. Olehnya itu, jika memang tersangka kooperatif dan bersedia mengembalikan kerugian negara, maka itu sudah pasti meringankan hukuman yang bersangkutan,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Kacabjari Banda Neira resmi menetapkan Kepala SMK Negeri 3 Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), RL, sebagai tersangka utama dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun anggaran 2015-2019.

Penetapan RL sebagai tersangka berdasarkan pengusutan yang dilakukan Kacabjari Banda selama 6 Bulan, yang menemukan sejumlah bukti yang dianggap cukup kuat.

Modusnya, tersangka melakukan pengelolaan dana BOS tidak sesuai juknis. Misalnya, melakukan mark-up, pencarian fiktif, tanda tangan yang dipalsukan untuk pencairan uang guru-guru honor. Sehingga dia dijerat dengan pasal 2 dan pasal 3, jo pasal 18 UU Nomor 31 tahun 1999, jo UU Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, jo pasal 64 KUHP.(SAD)

Comment