by

Aspidsus: Semua Terpidana WFC Namlea Sudah Dieksekusi

Ambon, BKA- Sempat kabur selama beberapa bulan, akhirnya Muhamad Ridwan Patilow berhasil dibekuk Tim Tangkap Buronan (Tabur) Gabungan Kejaksaan Agung, Kejati Jambi dan Kejati Maluku, di Provinsi Jambi, 11 November 2020 lalu.

Saat ini, terpidana kasus korupsi ater Front City (WFC) Namlea, Kabupaten Buru, itu sudah dieksekusi ke Lapas Kelas II A Ambon, sejak 13 November, pekan kemarin.

Aspidsus Kejati Maluku, M. Rudy, mengatakan, dengan telah dieksekusinya Muhamad Ridwan Patilow ke Lapas Kelas II A Ambon, maka seluruh terpidana kasus korupsi WFC Namlea sudah dieksekusi.

Menurutnya, ada empat terpidana yang dijerat dalam kasus itu. Masing-masing, Sahran Umasugi sebagai pemilik proyek, Sri Jurianty selaku PPK, Muhamad Duwila alias memet selaku kuasa PT Aego Media Pratama, dan Muhamad Ridwan Patilow selaku konsultan pengawas.

“Dari empat terpidana ini, tiga terpidana lainnya sudah dieksekusi beberapa bulan lalu. Sementara untuk terpidana Muhamad Ridwan Patilow yang masuk dalam DPO, baru dieksekusi Jumat pekan kemarin,” ungkap M. Rudy, Minggu (15/11).

Menurutnya, eksekusi terhadap terpidana Ridwan Patilow berdasarkan amar putusan Pengadilan Tinggi Ambon No. 2/Pidsus-TPK/2020/PT. AMBON, tanggal 10 Pebruari 2020, yang menyatakan, terpidana terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi penyalahgunaan dana dalam pekerjaan pembangunan WFC Kota Namlea tahap I tahun 2015 dan tahap II Tahun 2016, di Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Buru.

Dia mengaku, eksekusi terhadap terpidana dilakukan Tim Tabur Gabungan Kejaksaan Agung, Kejati Jambi dan Kejati Maluku, di Jalan Sultan Thana, RT. 017/RW 00, Desa Beringin, Kecamatan Pasar Jambi, Provinsi Jambi, 11 November 2020 lalu.

“Jadi setelah amankan, tim tabur membawanya ke Ambon untuk dieksusi ke Lapas kelas II A Ambon. Dan resmi Jumat kemarin,kita sudah eksekusi dia (terpidana),” jelasnya.

Dia mengaku, terpidana divonis sesuai amar putusan dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana korupsi dan dipenjara selama lima tahun, denda Rp 300 juta, subsidiar 4 (empat bulan).

“Untuk lamanya hukuman terhadap terpidana 5 tahun, dan juga terhadap tiga terpidana lainnya juga divonis bervariasi,” bebernya.

Sebelumnya diberitakan koran ini, terpidana pemilik proyek WFC Kota Namlea, Kabupaten Buru, Sahran Umasugi divonis penjara selama 11 tahun oleh majelis hakim dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Ambon, 21 November 2019 lalu.

Mantan anggota DPRD Kabupaten Buru ini terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dalam proyek WFC tahun 2015 – 2016, yang merugikan negara sebesar Rp 6 miliar lebih.

Sedangkan untuk tiga terpidana lainnya, divonis bersalah dan hukuman bervariasi oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Ambon.

Sri Jurianti divonis penjara selama 9 tahun, Muhamad Duwila dan Muhamad Ridwan Patilow divonis selama 7 tahun.

Menurut majelis hakim, perbuatan mereka terbukti melanggar pasal 2 ayat 1, jo pasal 18 UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Tipikor, jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

 Selain pidana badan, Majelis Hakim yang diketuai Pasti Tarigan, didampingi Jimmy Wally dan Jepri Septa Sinaga selaku Hakim anggota itu juga menghukum terpidana Sahran Umasugi, dengan membayar denda Rp 500 juta, subsider 6 bulan kurungan dan uang pengganti sebesar Rp 4.880.711.822 miliar, subsider 1 tahun kurungan. (SAD)

Comment