by

Banjir Rob Rendam Rumah Warga di Talake

Ambon, BKA- Puluhan rumah warga di kawasan Talake Dalam, RT.01/RW.05, kecamatan Nusaniwe, Ambon direndam banjir Rob, Jumat (5/2). Masuknya air laut ke permukiman warga ini, lantaran talud penahan ombak yang dibangun pemerintah cukup rendah.

Banjir rob sendiri, merupakan banjir yang diakibatkan oleh air laut yang pasang (naik) yang menggenangi daratan. Dan hal ini merupakan permasalahan yang sering terjadi di daerah yang lebih rendah.

Pantauan koran ini, ada sekitar 20 rumah lebih warga RT.01/RW.05 yang terendam banjir Rob. Warga sekitar terlihat melakukan evakuasi ke tempat yang kering. Sebab, ketinggian banjir air laut pasang ini sudah mencapai betis orang dewasa.

Sejumlah rumah yang dekat dengan pesisir pantai Talake ini terendam. Banjir Rob ini terjadi sekira pukul 17.00 WIT. Warga menilai, rendahnya talud penahan ombak yang dibangun pemerintah, membuat air laut masuk hingga ke permukiman warga sekitar.

“Itu tadi air naik, kira-kira jam 5 sore. Air masuk lewat talud pembatas yang ada. Dan masuk ke rumah warga dengan ketinggian mencapai betis orang dewasa. Banyak rumah yang terendam, terutama kosan yang berada di dekat talud,” ungkap Perangkat RT.01/RW.15, Ampi Pesiwarisa, saat ditemui koran ini, Jumat (5/2).

Selain faktor cuacan, lanjut dia, penyebab air merembes memasuki rumah penduduk diakui karena talud pembatas yang dibangun terlalu rendah. Dan ketika air masuk, warga sekitar segera melakukan evakuasi ke tempat yang kering. Dan yang peratama dievakuasi adalah perabotan yang mengandung listrik.

“Ini memang musim air laut pasang. Tapi air bisa merembes masuk akibat talud yang terlalu rendah. Sehingga air dengan mudah masuk permukiman warga. Kami segera melakukan evakuasi. Terutama mengamankan perabotan rumah yang ada listriknya. Agar tidak terjadi korsleting,” ucapnya.

Diakuinya, banyak barang milik warga yang tidak sempat diselamatkan. Sebab, banjir rob yang terjadi sangat cepat dan merembes masuk ke rumah warga. Bahkan ada salah satu kamar kos yang terpaksa harus didobrak pintunya untuk mengamankan colokan kabel agar tidak terjadi korsleting.
Tak hanya itu, sebagian warga sekitar juga ada yang tidak sempat mengamankan barang atau perabotan penting lainnya.

“Jadi banyak sekali barang yang tidak sempat diselamatkan karena kami sedang berada di luar rumah. Misalnya kasur dan buku pelajaran anak. Air cepat masuk ke rumah dan kos yang ada. Banyak anak kost yang sedang berada di luar, sehingga banyak barang tidak sempat diselamatkan. Saya sendiri sedang berada dipasar saat air merembes masuk. Untungnya ada suami yang duluan angkat barang,” sebut Joice, warga RT.01/05.

Sementara itu, Lurah Wainitu, Marvin Nikyuluw menambahkan, Pemerintah Kota bisa melihat dan melakukan tindakan terkait talud yang rendah tersebut. Karena tidak tersedia anggaran dari kelurahan untuk perbaikan talud.
“Ini memang bukan tanggung jawab kelurahan, karena ini masuk program Pemkot. Kami harap Pemkot bisa melihat hal ini. Kami berencana, jika nanti diadakan kunjungan dinas PU untuk ganti rugi tanah warga yang digusur untuk pembangunan pantai Wainitu, bisa dibahas mengenai talud tersebut,” pesan Marvin (BKA-1)

Comment