by

Bappenas Sebut Laut RI Bahaya Bagi Kapal Kecil

Bappenas memperkirakan saat ini 5,8 juta kilometer (Km) persegi perairan Indonesia berbahaya bagi kapal kecil, terutama bagi kapal nelayan berukuran di bawah 10 GT yang tidak mempunyai sarana keselamatan memadai.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas menyatakan kondisi ini merupakan dampak dari peningkatan perubahan iklim yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

“Berdasarkan hasil kajian bahaya peningkatan perubahan iklim, akibat tinggi gelombang, diprediksi kira-kira 5,8 juta km (persegi) wilayah perairan Indonesia berbahaya bagi kapal kecil terutama kapal nelayan berukuran kurang dari 10 GT,” ujarnya dalam webinar Net-Zero Summit 2021, Selasa (20/4)

Selain di kelautan, dampak perubahan iklim juga mengancam sektor pertanian Indonesia. Terutama terhadap produktivitas tanaman di sentra-sentra tanaman pangan nasional.

“Perubahan iklim mengancam produktivitas yang dapat berakibat pada penurunan produksi pangan terutama di sentra padi,” imbuhnya.

Tak hanya itu, di sektor kesehatan, perubahan iklim juga berdampak pada meningkatnya penyakit berbasis vektor seperti demam berdarah, malaria dan pneumonia. “ISPA juga berpotensi meningkat,” imbuh Suharso.

Sementara terhadap lingkungan, perubahan iklim menyebabkan peningkatan intensitas bencana seperti banjir dan longsor.

Tiap tahunnya, kata Suharso, pemerintah bahkan mencatat kerugian ekonomi akibat peningkatan bencana tersebut mencapai Rp22,8 triliun hingga Rp30 triliun. “Korban jiwa dalam 10 tahun terakhir mencapai 1.183 orang,” tuturnya.

Karena itu lah pemerintah harus mengubah kebijakan pembangunan menjadi lebih berkelanjutan dan ikut menahan laju pemanasan global yang berpengaruh terhadap perubahan iklim. Salah satunya dengan menerapkan ekonomi hijau atau rendah karbon.

“Skenario kami menunjukkan ekonomi hijau dan rendah karbon dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di masa mendatang sekaligus mendorong Indonesia keluar dari negara berpendapatan menengah 2045,” tandasnya. (INT)

Comment