by

Bejo Indonesia Perkenalkan Teknologi Penanaman Bawang dari Biji Maserati F1

beritakotaambon.com – Pastikan produksi bawah merah unggul demi ketahanan pangan, Bejo Indonesia perkenalkan teknologi barunya terkait penanaman bawang dari biji, atau dikenal dengan sebutan True Shallot Seed (TSS) ke Pemerintah Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.

Selain memperkenalkan teknologi barunya itu, Bejo Indonesia juga mengadakan open day bawang merah biji, yang merupakan ajang pelatihan dan diskusi mengenai penanaman bawang merah dari biji varietas Maserati F1, di kampung Sero, Desa Marioriaja, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng.

Diketahui, Bejo merupakan perusahaan benih yang berbasis di Negara Belanda. Yang dengan mitra distribusinya PT. Agrosid Manunggal Sentosa, berkeinginan untuk memperkenalkan teknologi ini ke para petani di Indonesia.

Lewat rilisnya yang diterima media ini, Kamis (14/10), Agung Pratama, Country Manager Bejo di Indonesia mengatakan, pihaknya memperkenalkan teknologi di Ddesa Marioriaja lantaran lahan dan teksturnya sangat cocok untuk pengembangan bawang dari biji.

“Biji yang digunakan itu merupakan Maserati F1, yakni varietas yang menghasilkan umbi yang besar, warna merah yang bagus dan cukup pedas. Cocok menjadi alternatif bagi petani bawang yang ingin mencoba menanam bawang dari biji,” beber Agung.

Dikatakan, untuk mensukseskan misi pengembangan bawang dari biji ini, Bejo tidak dapat bekerja sendirian dan membutuhkan bantuan dari dinas pertanian kabupaten/kota maupun provinsi. Agar teknologi ini sukses dikembangkan sebagai alternatif penanaman bagi petani yang sudah terbiasa menanam dari umbi.

“Sangat gembira sekali karena adanya teknologi penanaman bawang dari biji ini. Maseratif F1 adalah benih bawang merah hibrida yang sesuai dengan keinginan saya untuk menghasilkan bawang yang berkualitas,” sebut Bahktiar.

Bahktiar yang merupakan petani setempat, sebagai tuan rumah dalam ajang tersebut, juga diberikan kesempatan mencoba penanaman dari biji untuk bawang merah hibrida varietas Maserati F1.

Acara tersebut, juga didukung oleh program DHI dan Bejo Indonesia. Yang mana berlangsung sukses dengan menunjukkan keseluruhan fase penanaman. Yakni dimulai dari fase persemaian, perpindahan tanam dan fase panen.

Setiap fase itu, ditunjukkan agar para petani dan jajaran pemerintahan setempat dapat mengetahui bagaimana bawang merah dari biji menghasilkan produktifitas yang baik, dibandingkan dengan bawang dari umbi.

Di tempat yang sama, Wakil Bupati Soppeng, Lutfi Halide menyebutkan, dengan adanya teknoligi dari Bejo ini, sangat membantu masyarakat serta para petani yang ada.

Menurutnya, petani sangat antusias menanam bawang merah. Akan tetapi, harga bibit sangat tinggi yang bisa mencapai Rp 50 juta per hektarnya. Namun dengan hadirnya teknologi Bejo tersebut, para petani bisa mengurangi pengeluaran harga bibit yang hanya membutuhkan biaya sekitar Rp 15 juta.

“Petani kita sangat antusias untuk tanam bawang merah. Tetapi harga bibitnya mahal. Tapi dengan adanya biji dari Bejo ini, bisa membantu petani bawang kita di kampung sero ini” tandasnya.

Lutfi berharap, dengan adanya teknologi ini bisa membantu para petani dan bisa menjadi pengembangan bawang merah di Soppeng.

“Semoga dengan teknlogi ini bisa membantu para petani kita, dan Soppeng bisa menjadi sentra pengembang bawa merah,” harapnya.

Sekedar tahu, acara berlangsung dengan menetapkan prosedur kesehatan dan diakhiri dengan pembagian hadiah, bagi para pemenang lomba selama program pelatihan dilangsungkan. (BKA)

Comment