by

Belajar Online Masih Diterapkan

Ambon, BKA- Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon masih tetap menerapkan belajar online atau belajar dalam jaringan (Daring), Sebab Kota Ambon masih berada dalam zona orange penyebaran Covid-19.

Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, mengungkapkan, memang sebelumnya telah ada kebijakan Pemerintah Pusat (Pempus) melalui Mentri Pendidikan, terkait belajar tatap muka pada 2021. Namun Pemkot Ambon masih mengacu terhadap kondisi daerah, terkait penyebaran Covid-19.

“Karena dikembalikan (kebijakan, red-) ke daerah, maka kita tetap masih pakai pola yang lama saja (daring-red) untuk proses belajar mengajar tahun ini,” kata Richard, kepada wartawan di Ambon, Senin (4/1).

Selain alasan zona orange, Walikota dua periode itu mengaku kalau usia para siswa terbilang rentan terpapar Covid-19. Sehingga belajar online atau Daring, masih diterapkan. Dengan harapan, dapat memutus rantai penyebaran Covid-19.

“Saya kasih contoh. Kita maksimal itu bisa pakai TV kabel, misalnya. Itu kita sudah rapat dengan mereka juga, supaya kita maksimalkan itu lagi. Misalnya begitu, selain belajar online atau daring,” terangnya.

Terpisah, Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Kota Ambon, Fahmy Salatalohy, mengungkapkan, meski kebijakan Kementrian Pendidikan berganti-ganti, pihaknya tetap akan menjalankan tugas sesuai intruksi Walikota Ambon.

Dijelaskan, untuk proses pembelajaran tatap muka diberlakukan di Kota Ambon, pihaknya masih akan menunggu perintah dari Walikota Ambon. Sebab semua keputusan ada pada orang nomor satu di Kota Ambon itu. “Kita menunggu izin dari pak wali,” tandasnya.

Hal yang sama juga disampaikan Kepala SD Negeri 40 Ambon, Abdullah Suamoleh. Dia mengatakan, meskipun berbagai aturan terus diturunkan dari pusat, namun pihaknya tetap mengikuti keputusan Pemkot Ambon.

Namun dia berharap, Pemkot Ambon juga mempertimbangkan kebutuhan belajar siswa ditengah pandemi Covid-19. Bahwa akibat PJJ yang berkepanjangan, siswa tidak belajar dengan baik. Akibatnya, secara akademik maupun karakter, kualitassiswa mulai menurun.

Tidak hanya itu, lanjut Suamole, faktor PJJ atau BDR yang semakin lama diterapkan, akan membuat siswa, bahkan orangtua merasa jenuh. Sehingga apapun pola belajar jarak jauh yang digunakan, akan sulit untuk dimanfaatkan secara baik oleh siswa. Karena mereka hanya berkeingan untuk belajar tatap muka.

“Itu sebabnya, fasilitas maupun peralatan di sekolah sudah kami siapkan sejak beberapa bulan lalu. Berharap, itu akan menjadi acuan untuk kita belajar tatap muka di tahun ini. Tapi semua itu tergantung keputusan pemkot. Kalau belajar daring, ya, kita tetap ikut. Tidak mungkin kita bukan sekolah. Walaupun sebenarnnya kita inginkan untuk buka sekolah, karena anak-anak maupun orangtua, inginkan itu,” pungkas Suamole. (BKA-1).

Comment