by

Belajar Tatap Muka Terkendala Status Zona

Ambon, BKA- Proses belajar mengajar yang dilakukan secara tatap muka, di Kota Ambon masih terkendala status zona merah penyebaran virus Covid-19.

Untuk itu, dalam upaya memutus mata rantai penyebaran virus corona di Kota Ambon, khususnya di sekolah, maka proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dilakukan secara Daring maupun Luring dari Rumah, tetap dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19.


Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala SMA Kristen Passo, Adriana Tatipana. Ia mengungkapkan, proses belajar mengajar tatap muka terus mengalami kendala, karena Kota Ambon masih berstatus zona merah.

Menurutnya, dengan status zona yang terus berkepanjang ini, menyebabkan, sekolah hingga saat ini tidak bisa berbuat apa-apa. Khususnya, dalam upaya untuk kembalikan proses belajar di sekolah.

“Sepanjang masih zona merah, maka pasti kita belajar jarak jauh terus. Otomatis,guru, siswa dan orangtua semakin sulit. Disatu sisi, semakin lama PJJ juga, anak mulai jenuh. Nah, kalau kita paksakan terus, bisa jadi mereka melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan,” ujar Tatipata, Kamis (22/10).

Sebelumnya dikabarkan, SMA Kristen Passo berencana akan melakukan proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka di sekolah.

Rencana melakukan KBM tatap muka ini, dikarenakan, siswa-siswi yang berada di sekolah yang dipimpinnya itu mengalami kendala. Baik secara Daring maupun Luring.

“Memang kita rencana untuk melakukan KBM tatap muka. Sehingga kita sudah melakukan rapat dengan orangtua dan sudah disetujui. Namun, karena Kota Ambon kembali ke zona merah, sehingga kita pending dulu. Jangan sampai kita justru disalahkan, ketika ada persoalan,” kata Tatipata beberapa waktu lalu.

Lanjutnya, bahwa proses KBM yang direncanakan berjalan di sekolah itu, akan dikhususkan bagi siswa yang tidak memiliki fasilitas belajar di rumah. Dimana, secara teknis nanti dilakukan secara bergilir untuk setiap Mata Pelajaran (Mapel) tertentu saja. Sementara untuk yang memiliki fasilitas belajar Daring, tetap belajar secara online.

“Jadi, rencananya tatap muka ini untuk mapel tertentu saja, karena siswa perkelas itu tidak sampai 20. Ada sekitar 10 orang saja dan juga ini berlaku bergilir. Jadi, yang punya media daring itu kita bisa kasih data untuk belajar di rumah lewat aplikasi,” ungkapnya.

“Yang tidak ada fasilitas ini yang dia harus datang ke sekolah untuk belajar mapel tertentu, yakni, bahasa jerman, bahasa inggris, matematika, fisika, kimia, dan ekonomi. Mapel itu yang memang penting sehingga perlu belajar tatap muka agar bisa ada waktu. Kalau dirumah hanya beberapa menit. Itu pun tidak efektif,” terangnya

Ia mengatakan, rata-rata anak-anak didik di sekolah yang dipimpinnya ini, berasal dari latar belakang keluarga kurang mampu. Sehingga, tidak bisa memaksa siswa-siswi untuk belajar Daring. Selain mengambil kebijakan untuk melakukan proses belajar tatap muka di sekolah.

Tak hanya itu, selain untuk menjawab kebutuhan siswa-siswi, katanya, proses KBM tatap muka ini juga penting untuk mempersiapkan mutu dan kualitas pendidikan siswa. Khusus kelas XII yang adalah siswa kelas persiapan.

“Satu-satunya solusi untuk menjawab kebutuhan itu adalah dengan melakukan belajar tatap muka. Itu pun belajarnya secara bergilir. Jadi, kalau jam mata pelajaran matematika, maka guru matematika dan kelas mengajar yang datang ke sekolah,” ucapnya.

Dengan akan dilakukan belajar tatap muka di sekolah, pihaknya tetap menjalankan dan mematuhi panduan protokol kesehatan Covid-19.

“Untuk prosesnya nanti, pasti kita gunakan protokoler kesehatan. Ini demi masa depan anak-anak jadi apapun itu akan kita lakukan. Yang terpenting orangtua juga bisa mendukung kita. Hanya saja kita belum bisa lakukan itu, karena masih zona merah,” pungkasnya. (LAM)

Comment