by

Biaya Bengkak, RI Ingin Pangkas Porsi Saham di KCIC

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk menyatakan konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) berencana menurunkan kepemilikan saham di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menjadi di bawah 60 persen. Pihak PSBI disebut tengah melakukan negosiasi dengan China.

Direktur Utama Wijaya Karya Agung Budi Waskito menjelaskan 60 persen saham KCIC digenggam oleh PSBI. Sementara, sisanya 40 persen dimiliki oleh Beijing Yawan HSR Co.Ltd.

Agung menyatakan negosiasi dilakukan karena biaya proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung yang berada di bawah tanggung jawab KCIC membengkak. Berdasarkan hitungan sementara ada pembengkakan sekitar 20 persen.

“Jadi memang untuk kereta api cepat terjadi cost overrun (pembengkakan biaya) yang sedang dihitung. Berapa besar, yang saya dengar kurang lebih 20 persen tapi masih dihitung,” ungkap Agung dalam Webinar bertajuk Mengukur Infrastruktur, Rabu (14/4).

Hal ini, sambung Agung, akan berpengaruh terhadap biaya yang harus dikeluarkan oleh pihak Indonesia dalam proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung. Untuk itu, jika porsi saham PSBI selaku pihak dari Indonesia berkurang, maka Indonesia tak harus menanggung pembengkakkan biaya tersebut.

“Jadi kami sedang negosiasi dengan China agar porsi Indonesia lebih kecil. Harapan kami porsi daripada Indonesia lebih kecil daripada yang sekarang jadi cost overrun ditanggung pemerintah sana (China),” kata Agung.

Diketahui, terdapat empat perusahaan yang masuk dalam konsorsium PSBI. Empat perusahaan itu adalah Wijaya Karya dengan kepemilikan saham sebesar 38 persen, PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) masing-masing 25 persen, serta PT Jasa Marga (Persero) Tbk 12 persen.

Sebelumnya, Eks Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu menyebut biaya pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung yang digarap PT KCIC membengkak hingga US$6,071 miliar atau sekitar Rp88,6 triliun (kurs Rp14.666 per dolar AS).

“Ada beban berat kereta api cepat yang membengkak dari sekitar Rp40-50 triliun menjadi US$6,071 miliar atau Rp80-an triliun,” ucap Said.

Sementara, Corporate Secretary PT KCIC Mirza Soraya tak menampik adanya pembengkakan anggaran pembangunan. Ia mengatakan perusahaan sudah mengantisipasi pembengkakan biaya yang muncul, khususnya pada tahapan awal pembangunan.

“Biaya tak terduga ini biasanya muncul kala dilakukannya pembebasan lahan dan pemindahan utilitas-utilitas (fasos/fasum) yang terlewati trase kereta, yang baru dapat diketahui terperinci keseluruhan biaya yang timbul, setelah pengerjaan dilakukan,” pungkas Mirza. (INT)

Comment