by

BKKBN Gelar Sosialisasi Materi dan Media KIE

Ambon, BKA- Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Maluku menggelar kegiatan Sosialisasi Materi dan Media KIE, dalam rangka penurunan/pencegahan Stunting di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).

Sosialisasi dibuka secara virtual oleh Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Maluku, Widya Murad Ismail, yang juga merupakan Duta Parenting Maluku.

Dalam rilis Humas BKKBN, Ketua PKK Provinsi Maluku mengatakan, Undang-Undang No 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Banggakencana, menekankan kewenangan BKKBN tidak hanya terbatas pada masalah Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, namun juga menyangkut Keluarga Sejahtera.

Salah satu dari tujuh agenda pembangunan nasional yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Agenda (RPJMN) 2020- 2024, agenda ke 3 “Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Berkualitas dan Berdaya Saing”, harus dibentuk sejak dini melalui pengasuhan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Saat ini, lanjutnya, permasalahan yang dihadapi di Indonesia, termasuk Maluku, yakni, masalah gizi ganda. Yaitu, kekurangan gizi wasting (kurus) dan stunting (pendek) pada balita, anemia pada remaja dan ibu hamil, serta kelebihan gizi termasuk obesitas pada balita maupun orang dewasa.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, sehingga tinggi badan anak tidak sesuai dengan umurnya. Kekurangan gizi terjadi sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu 270 hari selama kehamilan, 730 hari setelah anak lahir sampai usia 2 tahun.

“Stunting ini berdampak pada tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, menurunkan produktifitas, menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemiskinan serta kesenjangan,” ungkanya.

Namun Stunting dapat dicegah. Dimulai dari masa remaja, yakni, seorang remaja dapat mempersiapkan dan merencanakan masa depan dan kehidupan berkeluarga, agar mereka mampu melangsungkan jenjang pendidikan, karier dalam pekerjaan, serta menikah dengan penuh perencanaan sesuai siklus kesehatan reproduksi.

Ditambahkan, saat ini, masih banyak ditemui ibu hamil dengan resiko tinggi, banyak keluarga yang memiliki anak stunting, banyak yang tidak ingin punya anak tapi tidak ber KB (Unmet neet).

“Karena itu saya sampaikan, harus memperhatikan jarak kehamilan satu dengan kehamilan selanjutnya dengan menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang (IUD,Implant,MOW,MOP), karena hal ini menyebabkan resiko kematian ibu dan bayi akan naik apabila jarak antar kehamilan terlalu dekat. Jarak kehamilan yang terlalu dekat dapat mempengaruhi terjadinya stunting dan persoalan lainnya,” terang Widya.

Untuk itu, istri Gubernur Maluku itu mengajak agar peserta sosialisasi cegah stunting dengan menerapkan beberapa hal, diantarany, ibu harus mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang, melakukan pemeriksaan minimal empat kali selama kehamilan, memberikan stimulasi pada janin dalam kandungan, memberikan ASI eksklusif selama enam bulan yang didampingi makanan pendamping ASI sampai dengan usia dua tahun.

Salain itu, memperkenalkan makanan bergizi pada anak sesuai dengan usia, memberikan stimulasi (rangsangan) kepada anak sesuai dengan usianya, dan memantau perkembangan anak dengan menggunakan Kartu Kembang Anak (KKA).

Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku, Dra. Renta Rego, dalam laporannya mengatakan, rencana kerja Pemerintah 2020 ditegaskan bahwa Pelayanan Kesehatan Percepatan Perbaikan Gizi Masyarakat menjadi kegiatan prioritas, untuk mendukung prioritas nasional I, yaitu, peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan.

Dengan demikian, BKKBN selaku instansi pemerintah mendukung hal tersebut, dengan melakukan pemberdayaan keluarga (Intervensi sensitive) melalui kelompok Bina Keluarga Balita (BKB).

Maka lewat sosialisasi materi dan media KIE, katanya, merupakan salah satu kegiatan proyek prioritas nasional promosi dan KIE, untuk mendukung pencegahan bahkan penurunan stunting di Provinsi Maluku, khususnya di kabupaten Seram Bagian Timur.

Karena itu, kehadiran BKKBN mempunyai peran dalam pecegahan/penurunan stunting dari gizi sensitif, melalui pengasuhan 1000 Hari Pertama Kehidupan di kelompok Bina Keluarga Balita.

“Tujuan kegiatan ini untuk memberikan informasi dan pemahaman kepada orangtua atau keluargam tentang pentingnya pengasuhan 1000 HPK dalam penurunan /pencegahan prevalensi stunting, meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan perilaku keluarga baduta, tentang pengasuhan dan tumbuh kembang anak pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pengelola maupun pelaksana pengasuhan dan tumbuh kembang anak pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan yang dilaksanakan di kelompok Bina Keluarga Balita,” pungkasnya.(RHM)

Comment