by

BKKBN Respon Kaca Mata Jurnalis Maluku

Ambon, BKA- Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, lewat program Ngobrol Bareng Dengan Insan Pers se-Indonesia secara virtual, memberi respon positif terhadap Kaca Mata Jurnalis di Maluku terkait proses penanganan stunting di Maluku, sebagai provinsi kepulauan.

Yang dalam penanganan kasus stunting di Maluku, masih ditemukan berbagai masalah. Yakni rata-rata persoalannya, masih terkendala minimnya alokasi anggaran dan keterbatasan tenaga penyuluh di lapangan.

Sejumlah pertanyaan yang disampaikan beberapa Jurnalis Maluku, langsung direspon. Salah satunya terkait kasus ibu hamil yang ditandu sejauh 10 kilometer, akibat minimnya pelayanan kesehatan dan akses transportasi.

“Itu pertanyaan yang bagus dan harus menjadi perhatian. Langkah pertama saya, langsung sampaikan ke pak Presiden Jokowi. Minta agar tenaga penyuluh termasuk di Maluku ditambah,” tegas Hasto.

Sebelumnyakata Hasto, Ia telah menindaklanjuti beberapa usualan penambahan tenaga, karena banyak yang telah memasuki usia pensiun.
“Biasanya BKKN setiap tahun, paling yang ditambah yang sudah memasuki pensiun sekitar 400 sampai 600. Dan kami disanggupi antara 4.000 sampai 5.000. Saya akan alokasikan sebagainnya nanti juga untuk Ambon, untuk pertambahan tenaga ini,” terangnya, di sela-sela kegiatan secara virtual itu, Selasa (9/3).

Diakuinya, program BKKBN di tahun ini, belum bisa merekrut tenaga PNS. Tapi khusus untuk bidang-bidangnya, bisa diperdayakan untuk mendampingi ibu-ibu hamil di daerah. Termasuk daerah yang sulit dijangkau akses transpotasi.

“Sekarang ini, sebenarnya bidangnya banyak. Hanya sebenarnya belum merata. Kalau seandainya difasilitasi, saya yakin satu desa ada satu bidang kemudian difasilitasi, saya yakin ini bisa. Karena saya menghayati betul. Kalau tadi dalam gambar ada ibu hamil di Maluku yang dibawa pakai tandu, itu memang sangat miris. Karena dulu waktu jadi dokter di puskesmas di pedalaman Kalimantan Timur itu, saya harus bawa ibu hamil pakai sarung kain dan dikasi bambu kanan kiri. Karena memang transpotasi dan situasi yang sulit,” bebernya.

Sementara menyangkut dengan stunting, lanjut Hasto, Ia sangat optimisme kalau di Ambon banyak ikan. Sehingga diharap betul, agar budaya makan ikan harus dapat didorong.

Sebab, ada pemahaman kalau mengkonsumsi ikan dapat menimbulkan cacingan. Sehingga ada sebagian yang tidak diberi ikan segar. Tapi sebaliknya diberi makan mie instan. Namun yang terpenting bagi BKKBN, harus ada perhatian bagi Maluku.

“Terima kasih atas infromasinya. Sehingga pendampingan keluarga harus kami lakukan, dan penambahan tenaga juga kami sikapi untuk adanya penambahan tanaga penyuluh,” pungkasnya. (RHM)

Comment