by

BLH MBD Kewalahan Tangani Limbah

Ambon, BKA- Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) kewalahan menangani persoalan limbah sampah. Kekurangan fasilitas penunjang Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang berada di Desa Upunyor, Kecamatan Moa-Lakor, menjadi salah satu faktor penyebab.

Keterlambatan Pembangunan fasilitas penunjang dalam pengelolaan sampah, menurut Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), Dalma Eoh, disebabkan minimnya anggaran pemerintah kabupaten tersebut.

Hal itu diperparah dengan kecilnya peluang BLH MBD, untuk mendapatkan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Pemerintah Pusat.

Saat ini, TPA yang tersedia dengan luas lahan 5 Hektar hanya diperuntukan untuk mengelola sampah dengan sistem manual, yakni, pengangkutan, penumpukan, kemudian pemusnahan. Sehingga pengelolaan limbah tidak tertangani dengan baik.

” alam pengelolaan sampah, itu memerlukan beberapa penanganan agar tidak berdampak pada pencemaran lingkungan. Akan tetapi dengan kondisi TPA saat ini, tanpa adanya fasilitas penunjang salah satunya Insatalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT), tentu menjadi kendala untuk mengoptimalkan penanganan sampah. Padahal limbah tinja perlu ditangani secara khusus, perlu dilakukan guna menurunkan kandungan zat organic dari lumpur tinja, serta untuk menurunkan bakteri-bakteri patogen penyebab penyakit,” ungkapnya.

Lanjutnya, untuk mengantisipasi dampak lingkungan bagi masyarakat, saat ini pengelolaan sampah dipindahkan ke lokasi lain, guna menetralisir lokasi TPA sebelum dilakukan pembangunan fasilitas pendukung lainnya. Akan tetapi, lokasi pengelolan sampah saat ini juga hanya bersifat sementara.

Menurutnya, BLH telah mengusulkan peningkatan pembangunan TPA dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun 2021. Akan tetapi kondisi anggaran pemerintah kabupaten belum memadai untuk merealisasikan pengusulan tersebut. Padahal masalah sampah jika tidak ditangani sejak dini, dapat berdampak buruk pada persoalan lingkungan dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Karena itu, dirinya berharap, ada kebijakan Bupati MBD untuk melihat persoalan tersebut, mengingat volume sampah saat ini makin meningkat.

“Jika kita tidak menangani hal ini sedini mungkin, tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi lingkungan di Pulau Moa dapat terancam. Terkhsusnya jenis sampah yang sulit melebur secara alami, seperti, sampah plastik. Sehingga pembangunan fasilitas penunjang TPA sangat dibutuhkan, agar dalam pengolahannya kita dapat memilah jenis sampah dan cara menanganinya,” jelas Eoh.

Selain fasilitas pengolahan sampah, tambahnya, keterbataa armada dan sumber daya manusia juga menjadi faktor lain, yang menghambat penanganan sampah di Pulau Moa.(GEM)

Comment