by

BPKP Audit Berkas Irigasi Sariputih

Ambon, BKA- Berkas korupsi kasus dugaan korupsi irigasi di Desa Sariputih, Kecamatan Seram Utara Kobi, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), mulai dihitung oleh auditor BPKP Maluku dan Malut.

Hal ini dilakukan setelah penyidik Kejari Malteng, tuntas menyerahkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan tim auditor.

“Berkasnya sudah diaudit. Jadi semua berkas atau dokumen, kita sudah lengkapi,” ungkap Kasi Pidsus Kejari Malteng, Asmin Hamja, kepada Beritakota Ambon, Jumat (5/2).

Untuk saat ini, berkas perkara tersebut tidak ada kendala lagi di BPKP. Dan setelah dikoodinasikan, ternyata berkasnya sementara diaudit.

“Jadi berkas itu sudah audit. Nanti sepanjang audit, jika ada berkas atau dokumen yang dibutuhkan, baru penyidik lengkapi lagi,” tuturnya.

Jaksa dua melati ini berharap, proses audit perkara ini, cepat diselesaikan BPKP untuk kepentingan penyidikan selanjutnya. “Semoga berkas perkara ini secepatnya diselesaikan tim auditor,” pungkasnya.

Sebelumnya, tim penyidik melengkapi berkas perkara kasus dugaan korupsi irigasi di Desa Sariputih, Kecamatan Seram Utara Kobi, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), yang diminta tim auditor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Maluku-Malut.

“Jadi sebelum kita surati BPKP dulu, surat yang kita layangkan sudah ke tiga kali. Kemudian mereka mengirim permintaan supaya penyidik melengkapi berkas perkara untuk kepentingan audit. Makanya kita lengkapi,” ungkap Kasi Pidsus Kejari Malteng, Asmin Hamja kepada Wartawan di Pengadilan Tipikor Ambon, Kamis (14/1).

Menurut Asmin, dokumen yang diminta auditor BPKP Maluku adalah dokumen teknik pengadaan lelang LPSE. Dokumen inilah yang menjadi keperluan tim auditor dalam mengaudit perkara ini.

“Mereka minta dokumen sisa, dokumen sisa itu dokumen pengadaan lelang LPSE, jadi sudah kita serahkan ke tim auditor belum lama ini,” jelasnya.

Untuk diketahui, kasus ini penyidik Kejari Malteng menetapkan lima tersangka, yakni, Ahmad Litiloly PPTK, pembantu PPTK Markus Tahya, Dirut CV Surya Mas Abadi, Yonas Riuwpassa, peminjam perusahan atau kontraktor Benjamin Liando, dan Megy Samson selaku KPA.

“Jadi sekali lagi proyek ini bermasalah di RAB. Misalnya RAB bangun lain, tapi pekerjaan dilapangan lain,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, indikasi pembanguna proyek irigasi, para tersangka melakukan mark-up satuan harga. Sehingga mengakibatkan hasil kerja tidak sesuai Bestek. Dan mengakibatkan kerugian keuangan negara mencapai Rp.800 juta lebih sesuai hitungan tim penyidik.

“Waktu kita turunkan ahli kontruksi, mereka temukan selisih, pasir, batu dan semen dibangun tidak sesuai RAB. Indikasi mereka juga naikkan harga barang,” pungkas Asmin.(SAD).

Comment