by

Branding “Akhlak Mulia” (bagian 1)

(Visi Pedagogis; Branding Lingkungan Pendidikan)

oleh: Ustadz Fathurrahman
(Dai Ikadi/Kepala Sekolah SMA As Salam Ambon)

Berbicara istilah “Branding”, jauh sebelumnya Allah SWT “membranding” Nabi Muhammad SAW dengan berbagai narasi branding. Dan yang paling utama dari semua branding itu adalah “Khuluqun ‘Adzim”.

Branding tidak jauh maknanya dari pencitraan. Namun belakangan istilah pencitraan bergeser menjadi peyoratif, sehingga orang terkadang enggan disebut dengan istilah pencitraan.

“Sesungguhnya Engkau wahai Muhammad benar-benar dalam akhlak (budi pekerti) yang agung” (Al Qalam:4)

Tidak tanggung, bukan hanya akhlak mulia (biasa), tapi disebut dengan diksi ‘adzim; yang bermakna jika itu sebutan untuk Allah, maka ‘adzim adalah keagungan yang tidak mungkin digambarkan dengan akal pikiran, tidak mungkin dapat dibahas dengan ilmu pengetahuan.

Bagaimana jika dikatakan kepada seorang manusia Agung? Kira-kira sama saja. Akhlak Nabi Muhammad SAW itu luar biasa. Bahkan akan susah dicerna. Masa iya ada manusia tanpa cela? Ada! Ya itu dia satu-satunya adalah Nabi Muhammad SAW. Dan Allah menjadikan KHULUQUN ‘ADZIIM itu sebagai BRANDING, bahkan lima ratus tahun sebelum beliau terlahir. Masya Allah.

Hari ini, nyaris semua produsen di hampir semua bidang produksi akan mencari branding yang tepat untuk produknya. Mereka fokus mencari diksi atau narasi terbaik untuk membranding produknya.

Hakikinya, branding adalah tentang integritas, konsekwensi dan keberlanjutan tindakan dan paling akhir adalah kepercayaan. Sebaik apapun sebuah branding, jika tidak mengikat kepercayaan bagi konsumen akan menjadi hal yang sia-sia. Bahkan branding adalah risiko yang jika tidak sesuai dengan aplikasinya, akan menjadi bumerang berat bagi penggagasnya.(bersambung/*)

Comment