by

Bukan Chip, Erick Sebut di Botol Vaksin Corona Cuma Barcode

Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan vaksin virus corona yang tengah didistribusikan di Indonesia tidak berisi chip, tapi ada barcode-nya. Barcode berfungsi untuk memudahkan pendataan volume vaksin yang dikelola oleh PT Bio Farma (Persero).

“Jadi bukan vaksinnya di dalamnya ada chip yang kemudian dimasukkan ke badan kita, tapi ini barcode, di botol vaksinnya,” ungkap Erick saat rapat bersama Komisi VI DPR di Gedung DPR/MPR, Rabu (20/1).

Erick menjelaskan barcode itu ada di botol vaksin dan dipasang saat botol vaksin dimasukkan ke kotaknya. Barcode ini sudah berisi nomor yang menyatakan nomor urut atau identitas vaksin.

“Jadi kalau di kotak itu ada 10 botol, diambil satu, itu ketahuan. Ini nanti kotaknya dimasukkan ke kotak yang lebih besar lagi, lalu dimasukkan ke pendingin, baru dikirim melalui truk,” jelasnya.

Barcode juga berfungsi untuk mendeteksi perjalanan vaksin, misalnya dari Jakarta ke Aceh. Distribusi vaksin pun juga menggunakan sistem GPS sehingga semakin memudahkan pemerintah dan Bio Farma untuk mendeteksi ke mana perjalanan vaksin tersebut.

“Jadi kita tahu jam berapa di Jakarta dan ke sana, termometernya terukur juga ketika sampai di Aceh. Misalnya sampai Sumatera Barat atau Jawa Barat itu 3 derajat sampai 5 derajat celcius. Kemarin saya lihat itu 5,2 derajat celcius,” tuturnya.

Ia berharap sistem yang terstruktur dan akuntabilitas ini bisa menopang kelancaran distribusi vaksin covid-19 ke seluruh Indonesia.

Sebelumnya, pemerintah telah mendatangkan impor vaksin covid-19 dari Sinovac, perusahaan farmasi China. Impor vaksin dilakukan dalam tiga tahap.

Pertama, sebanyak 1,2 juta dosis vaksin jadi pada 6 Desember 2020. Kedua, sebanyak 1,8 juta dosis vaksin jadi pada 31 Desember 2020.

Ketiga, sebanyak 15 juta vaksin dalam bentuk bahan baku alias bulk pada 12 Januari 2021 lalu. Vaksin dalam bentuk jadi langsung didistribusikan untuk keperluan di pusat dan daerah.

Sementara vaksin dalam bentuk bahan baku dialirkan ke Bio Farma untuk diolah menjadi vaksin jadi. Targetnya, 15 juta vaksin berbentuk bahan baku akan disulap menjadi 12 juta dosis vaksin siap pakai pada Februari 2021.

Pemerintah sendiri sudah memulai program vaksinasi covid-19 nasional. Hal ini ditandai dengan penyuntikan vaksin perdana ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Rabu (13/1). (INT)

Comment