by

Buron Kredit Macet Serahkan Diri

Ambon, BKA- Jusuf Rumatoras akhirnya dijebloskan ke Lapas kelas IIA Ambon, setelah memilih menyerahkan diri kepada pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku, Sabtu (19/12), pekan kemarin.

Jusuf Rumatoras merupakan terpidana kasus kredit macet Bank Maluku tahun 2006, senilai Rp 4 miliar. Berdasarkan putusan Mahkamah Agung, dia djatuhi hukuman penjara selama 5 tahun.

“Benar, terpidana Jusuf Rumatoras telah menyerahkan diri ke Kantor Kejaksaan Tinggi Maluku dan dieksekusi ke Lapas Kelas II A Ambon, pada Sabtu, sekitar pukul 20.30 WIT, oleh Jaksa Oceng Almahdali dan Jaksa Ruslan Marasabessy,” ungkap Kasi Penkum Kejati Maluku, Samy Sapulette, kepada Wartawan, Minggu (20/12).

Penyerahan diri terpidana itu dilakukan setelah tempat persembunyiannya mulai terendus Kejati Maluku. “Jadi ini karena bekeradaan sudah diketahui tim jaksa, makanya dia menyerahkan diri,” tandas Samy.


Jusuf Rumatoras akan menjalani hukuman berdasarkan amar putusan Mahkamah Agung RI, yang menyatakan terpidana terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi kredit macet Bank Maluku tahun 2006 senilai Rp 4 miliar.

“Terpidana akan menjalani hukuman selama 5 tahun penjara, berdasarkan putusan Mahkamah Agung,” pungkasnya.

Sebelumnya diketahui, keberadaan Jusuf Rumatoras sedang ditelusuri. Wilayah Papua memang merupakan salah satu tempat yang bersangkutan. “Kita pernah deteksi sebelumnya. Tetapi sebaiknya ikuti saja,” kata Kasi Penkum Kejati Maluku, Samy Sapulette, Selasa (15/12).

Sapulette mengatakan, Rumatoras masuk dalam target jaksa untuk ditangkap. Sehingga dia menyarankan agar Rumatoras maupun buronan Kejati Maluku lainnya agar menyerahkan diri secara baik-baik untuk menjalani hukuman.

“Kita akan cari terus. Dari penangkapan terhadap beberapa buronan tahun ini, menunjukkan bahwa sebenarnya tidak ada tempat yang aman bagi pelaku kejahatan,” tandasnya.

Sekedar tahu saja, menurut Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati Maluku, M Rudi di Kantor Kejati Maluku, terpidana Yusuf Rumatoras menjadi target penangkapan oleh Kejati Maluku.

Rudi mengatakan, ada baiknya terpidana korupsi yang sudah masuk dalam DPO, menyerahkan diri untuk menjalani hukumannya. “Lebih baik lagi menyerahkan diri sendiri,” tegasnya.

Lanjut Rudi, Petro Tentua juga akan ditangkap, apabila pihaknya sudah menerima salinan putusan dari Mahkamah Agung. “Putusannya belum kami terima. Kalau sudah kami terima, langsung kita eksekusi,” ujarnya.

Dia juga berjanji akan menangkap buronan terpidana korupsi lainnya.

Untuk diketahui, Petro Tentua merupakan mantan Kepala Divisi Renstra dan Corsec Bank Maluku. Dia turut terlibat korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) pembelian lahan dan bangunan bagi pembukaan Kantor Cabang Bank Maluku dan Maluku Utara di Surabaya tahun 2014, yang merugikan negara Rp 7,6 miliar.

Petro dihukum 6 tahun penjara, dan membayar denda Rp 500 juta, subsider 3 bulan kurungan. Petro terlibat bersama Direktur Utama CV Harves Heintje Abraham Toisuta.

Heintje divonis 12 tahun penjara, membayar denda Rp 800 juta, subsider tujuh bulan kurungan serta membayar uang pengganti Rp 7,2 miliar, subsider 4 tahun penjara. Ia telah dieksekusi ke Lapas Klas IIA Ambon pada Kamis (17/9), setelah ditangkap Tim Intelijen Kejagung di kawasan Keramat Sentiong, Jakarta Pusat, Selasa (15/9) lalu.

Sedangkan Petro dibiarkan bebas berkeliaran.
Mantan Direktur Bank Maluku Maluku Utara, Idris Rolobessy, sudah lebih dulu diesekusi pada 9 Agustus 2017 lalu.

Idris dihukum 10 tahun penjara, membayar denda Rp 500 juta, subsider tujuh bulan kurungan dan uang pengganti senilai Rp 100 juta subsider 6 bulan kurungan dalam kasus ini. (SAD)

Comment