by

Buru Jadi Percontohan AN di Maluku

Ambon, BKA- Rencana pelaksanaan Asesmen Nasional (AN) sebagai pengganti Ujian Nasional (UN) pada 11 Maret nanti, diundur pelaksanaanya pada September mendatang oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Kabid Pembinaan SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Maluku, Sirhan Jul Chaidir, mengungkapkan, dari rencana pelaksanaan AN pada September tersebut, Kabupaten Buru ditunjuk sebagai percontohan untuk Maluku.

Menurutnya, AN atau Assesmen pembelajaran merupakan proses untuk mendapatkan informasi dalam bentuk apapun, yang dapat digunakan untuk landasan pengambilan keputusan tentang siswa, baik yang menyangkut kurikulumnya, program pembelajarannya, iklim sekolah maupun kebijakan-kebijakan sekolah.

Tujuannya untuk mendorong perbaikan mutu pembelajaran dan hasil belajar peserta didik. Bahkan tidak hanya sebagai Ujian Nasional dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional, tetapi juga sebagai penanda perubahan paradigma tentang evaluasi pendidikan.

Lnjutnya, terkait penundaan pelaksanaan AN dilakukan setelah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Nadiem Makarim, mengeluarkan kebijakan baru akibat pandemi Covid-19, dari sebelumnya Maret diundur September.

“Yah ujiannya, SMA tetap di bulan Maret, khusus kelas 12. Tetapi asesmen ini mulai dari kelas 11, makanya diundur sampai bulan September,” akuinya.

Menurutnya, asesmen pembelajaran nasional sebenarnya merupakan filosofi acuan yang terkait dengan paradigma pendidikan baru, yang didalamnya terdapat tiga insturmen. Pertama, asesmen kompetensi minimal yang terkait dengan peningkatan literasi siswa. Kedua, survei karakter selama siswa berada dilingkungan sekolah, baik dari sisi keagamaan dan Kebhinekaan. Ketiga, survei lingkungan belajar.

Ketiga opsi tersebut kata, Sirhan akan menjadi opsi pertanyaan saat siswa mengikuti proses asesmen pembelajaran.

Dalam pelaksanaan asesmen tersebut sesuai kesiapan infrastruktur, akui Sirhan, Maluku belum bisa melaksanakannya, lantaran masih terkendala dengan keterbatasan sarana prasarana dan infrastruktur lainnya.

Contohnya, wilayah Seram Bagian Timur (SBT) dan Maluku Barat Daya (MBD), yang secara keseluruhan wilayanya belum memiliki jaringan internet. Sementara asesmen tersebut berlangsung secara nasional, dengan berbasis online.

“Tapi kita tetap siasati untuk tetap melaksanakan asesmen, dengan menggunakan pola seperti pelaksanaan ujian nasional berbasis computer. Yakni, sekolah yang belum memiliki sarana pendukung, dapat bergabung dengan sekolah lain yang memiliki sarana dan jaringan internet,” jelasnya.

Pelaksanaan asemen sesuai aturan, setiap ruangan hanya bisa diikuti 15 sampai 45 siswa, dari perwakilan masing-masing siswa.

Oleh Kemendikbud, ujarnya, masing-masing Disdikbud ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggara untuk jenjang SD, SMP dan SMA sederajat, bahkan sampai dengan paket. Sehingga perlu dilakukan sosialisasi.

“Jadi asesmen di Maluku tetap jalan, dengan disiasati seperti pelaksanaan UNBK,” pungkas Sirhan. (RHM)

Comment