by

Buwas Temukan Lingkaran Setan di Balik Harga Kedelai Mahal

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengungkapkan penyebab harga kedelai mahal adalah lingkaran setan. Maksud dari lingkaran setan tersebut adalah praktik kartel serta birokrasi yang terlalu panjang.

Ia menegaskan akar persoalan kenaikan harga bahan baku tahu dan tempe itu bukan masalah kekurangan pasokan dan bukan keterbatasan produksi luar negeri. Namun, tidak lain adalah praktik kartel tersebut.

“Sehingga kalau kita bicara bagaimana pak masalah jagung, bagaimana pak kedelai, ya itu akar masalahnya, makanya ada lingkaran setan,” ujarnya dalam konferensi pers, Rabu (9/2).

Ia mengatakan harga bahan pangan impor, termasuk kedelai, bawang putih, daging, dan sebagainya sebetulnya murah. Namun, harga bahan pangan tersebut menjadi mahal ketika sampai di tangan konsumen adalah kartel dan birokrasi yang panjang.

Setiap perpindahan dari satu pihak ke pihak lainnya, kata dia, ada pungutan biaya sehingga harganya semakin mahal ketika sampai di tangan konsumen. Menurutnya, kondisi ini tidak ubahnya dengan praktik korupsi.

“Satu ke satu semua pakai biaya, ini yang kami istilahkan wujud korupsi sebenarnya. Lalu, hasil atau beban korupsi dibebankan ke masyarakat yaitu konsumen. Harga Rp7 ribu dijual Rp12 ribu, selisih Rp5 ribu, yang Rp5 ribu ini dibebankan ke konsumen, padahal yang menikmati oknum-oknum tertentu,” ucapnya.
Lihat juga: Buwas Cium Permainan Kartel di Balik Harga Daging Sapi Mahal

Buwas, sapaan akrabnya mengaku sempat melaporkan kondisi tersebut kepada eks Ketua KPK Agus Rahardjo. Menurutnya, praktik birokrasi yang panjang ini tidak sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yakni pemangkasan birokrasi, menghilangkan pungutan, pelayanan satu atap yang cepat dan murah.

“Saya pernah sampaikan ke Ketua KPK yang lama, Pak Agus. Pak, gampang ini kalau evaluasi akar permasalahan kenapa terjadi korupsi, ini karena birokrasi,” katanya.

Sebelumnya, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Syailendra mengatakan berdasarkan data Chicago Board of Trade, harga kedelai dunia pada Desember 2020 masih US$13,12 per bushels untuk kontrak penyediaan Januari 2021. Tapi, sekarang harga kedelai telah naik lagi sebesar 4,42 persen menjadi US$13,7 per bushels.

Kenaikan itu membuat harga kedelai impor di tingkat perajin tahu dan tempe yang secara umum masih berada di kisaran Rp9.100 sampai dengan Rp9.200 per kilogram berpotensi naik jadi Rp9.500 per kilogram.

Kalau perkiraan itu benar terjadi, ia menyebut harga tahu yang sebelumnya Rp600 per potong akan naik menjadi Rp650 per potong. Sementara itu untuk tempe, harganya bisa naik dari Rp15 ribu menjadi Rp16 ribu per kilogram.

“Penyesuaian harga tahu dan tempe merupakan hal yang tak bisa dihindari sebab mayoritas kebutuhan kedelai masih dipenuhi dari impor dan dipengaruhi pergerakan harga kedelai dunia yang berdampak pada harga bahan baku kedelai untuk tahu dan tempe di Indonesia,” katanya seperti dikutip dari website Kementerian Perdagangan. (INT)

Comment