by

Cabuli 6 Siswi, Oknum Kepala Sekolah Divonis 10 Tahun Penjara

beritakotaambon.com – INIKATASULTRA.com – Seorang oknum kepala sekolah di Kota Medan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) berinisial BS, dijatuhi vonis 10 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (29/12/2021).

Oknum kepala sekolah yang juga berprofesi sebagai pendeta itu dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana pencabulan terhadap 6 siswi di sekolah yang dipimpinnya.

Putusan Majelis Hakim itu dibacakan Hakim Ketua, Zufida Hanum, di ruang sidang Cakra 8 PN Medan. Dalam amar putusannya, Majelis Hakim menilai terdakwa BS telah terbukti bersalah melanggar pasal 82 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang Jo Pasal 65 KUHP sebagaimana dakwaan tunggal JPU.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 10 tahun dikurangi selama terdakwa di dalam tahanan dengan perintah terdakwa tetap ditahan,” ujar hakim.

Selain pidana penjara, BS juga diwajibkan untuk membayar denda sebesar Rp 60 juta subsider 3 bulan kurungan.

Adapun putusan yang dijatuhkan hakim lebih rendah dibandingkan tuntutan jaksa. Sebelumnya Jaksa, Irma Hasibuan, menuntut agar BS dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Atas putusan ini, JPU menyatakan pikir-pikir.

Kasus ini berawal pada 12 Maret 2021 lalu. Mulanya, terdakwa disebut telah mencabuli dua orang siswinya dengan modus memanggil korban ke ruangannya.

“Dia memanggil siswi pertama ke kantornya dan hanya berdua di dalam ruangan sekitar 20 menit. Anak tersebut diminta pelaku untuk tidak memberitahu kepada orang lain tentang perbuatannya,” kata Pengacara korban, Ranto Sibarani, Jumat (16/4/2021).

Setelah itu, terdakwa kembali memanggil korban lainnya untuk masuk ke ruangannya. “Di situ, terdakwa menanyakan kepada korban sudah pernah nonton video syur atau belum,” kata Ranto.

Setelah kejadian itu, salah seorang korban lalu melaporkan yang dialaminya kepada orang tuanya. Terdakwa lalu meminta maaf dan membuat surat perdamaian pada 30 Maret 2021 agar kasus tersebut tidak berlanjut ke ranah hukum.

Namun, isu soal dugaan pencabulan itu diketahui oleh orang tua siswi lainnya. Salah seorang ibu korban yang merupakan klien dari Ranto menanyakan kepada anaknya terkait perbuatan tak pantas dari terdakwa.

Korban lalu mengaku pernah mendapat perlakuan tak senonoh dari terdakwa dalam rentang waktu 2018-2019.

“Dia mengaku ternyata beberapa kali dibawa ke hotel oleh pelaku. Di sana anak itu dipaksa melakukan perbuatan tak pantas. Dia juga pernah membawa korban ke rumahnya,” jelas Ranto.

Atas perbuatannya, terdakwa kemudian dilaporkan ke Polda Sumut pada Kamis (1/4/2021). Lalu, pada Mei 2021 polisi menetapkan BS sebagai tersangka.

Selain melaporkan ke polisi, sejumlah orang tua murid juga sempat menggelar demonstrasi di depan sekolah tersebut. (red/iks)

Comment