by

Capek Dengan PJJ, Guru Lakukan Belajar Tatap Muka

Ambon, BKA- Salah satu guru yang mengabdi di SD Inpres 23 Ambon mengaku sudah merasa capek dengan pola Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Sehingga dia memutuskan untuk melakukan proses belajar secara tatap muka dengan siswa di ruang kelas sekolah.

Sayangnya, keputusan yang diambil secara diam-diam oleh guru itu, dilaporkan masyarakat kepada Dinas Pendidikan Kota Ambon.

Sekertaris Dinas Pendidikan Kota Ambon, Merry Mairuhu, turun langsung ke sekolah untuk membubarkan kegiatan pembelajaran tatap muka tersebut.

Merry mengaku, proses pembelajaran hingga saat ini, masih dilakukan secara jarak jauh. Belum ada ijin untuk melaksanakan kegiatan belajar tatap muka di sekolah.

“Tadi, Senin (kemarin, red), saya baru saja bubarkan SD Inpres 23. Saya bilang kenapa harus dilakukan belajar tatap muka. Perwali sudah jalan dan sudah disampaikan ke semua Kepsek. Saya panggil kepala sekolah. Katanya, guru ini bilang, sudah capek mengajar lewat rumah,” ungkapnya, Senin (11/1).

Merry mengatakan, proses pembelajaran tatap muka itu, melibatkan sebanyak 20 siswa. Bahkan protokol kesehatan juga tidak dimaksimalkan secara baik. Para siswa yang mengikuti pembelajaran tatap muka itu tidak memakai masker.

“Guru dan Kepala sekolah SD 23 sudah saya sampaikan. Kalaupun ini terjadi lagi, maka akan diberikan sanksi. Perwali itukan tidak menjelaskan sanksinya apa, sehingga pasti ada sanksi administrasi yang diberikan Dinas Pendidikan kepada pelanggaran Perwali nomor 420,” ujarnya.

Menurutnya, perbuatan yang dilakukan salah satu guru SD Inpres 23 Ambon itu, harus dipertanggungjawabkan oleh Kepala Sekolah. Sebab segala aktivitas yang dilakukan dilingkup sekolah, menjadi tanggung jawab Kepala Sekolah.

“Makanya saya bikin penekanan kepada Kepsek. Karena Kepsek adalah manager di sekolah itu. Kepsek adalah penanggung jawab di sekolah itu. Aktivitas yang dilakukan di sekolah, pasti diketahui oleh Kepsek. Jadi Kepsek harus kena sanksi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, terang Merry, kalau sesuai analisa Dinas Pendidikan Kota Ambon, para siswa maupun guru sudah merasakan jenuh belajar secara jarak jauh. Tetapi kondisi pandemi Covid-19 masih mengharuskan untuk tetap belajar seperti itu.

“Memutuskan mata rantai Covid-19 inikan sangat sulit. Sebagian warga saja belum sadar, apalagi anak-anak harus kita kumpulkan. Kalau terjadi kluster-kluster baru, maka pastinya itu tanggung jawab pemerintah kota,” tandasnya. (IAN)

Comment