by

Cegah Kekerasan Perempuan dan Anak di Buru

Ambon, BKA- Tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Buru yang mencapai 43 kasus hingga bulan Desember 2020 lalu, menjadi perhatian khusus Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buru.

Melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Buru, Pemkab Buru akan lebih meningkatkan edukasi dan sosialisasi pencegahan kekerasan perempuan dan anak di tahun ini.

Berdasarkan data yang disampaikan DP3A Buru, sepanjang tahun 2020 lalu, kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan meningkat. Hingga salah satu kecamatan di daerah penghasil minyak Kayu Putih ini masuk zona merah.

Yakni untuk tahun 2020 data kasus kekerasan perempuan, terdiri dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) 10 kasus, pemerkosaan dan pelecehan seksual 4 kasus, pornografi dan 1 kasus. Sementara kasus kekerasan anak yakni kekerasan seksual/pencabulan 11 kasus, kekerasan fisik terhadap anak 7 kasus, penelantaran anak 2 kasus, pornografi 2 kasus, putus sekolah 2 kasus, saksi anak 2 kasus, anak sebagai pelaku 1 kasus, dan hak perwalian anak 1 kasus.
Sementara angka kasus seksual di tahun 2020 lebih tinggi, jika dibandingkan dengan jumlah kasus di tahun 2019, yang hanya 34 kasus.

“Intinya sama seperti tahun lalu, terus sosialisasi pencegahan supaya jangan lagi ada korban. Hanya intensitas nanti, insya Allah dirubah. Yang biasanya satu bulan kami bisa hanya lima kecamatan, tahun ini intensitas dan lokus yang diperbanyak. Kegiatan masih sama, seperti sosialisasi dan edukasi,” tandas Kepala DP3A Kabupaten Buru, Oclaila Sulaiman kepada BeritaKota Ambon, Sabtu (6/2).

Ia menjelaskan, langkah sementara yang dialmbil dalam hal pencegahan kasus kekerasan perempuan dan anak di Kabupaten Buru, masih terbilang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun, titik sosialisasi dan edukasi yang akan diperbanyak di tahun ini.

“Untuk langkah-langkah pencegahannya melalui sosialisasi, pelatihan, baliho, media sosial, poster untuk disebarkan ke masyarakat. Dan semua forum dimana kami diundang sebagai narasumber dan sebagainya, kami selalu sampaikan untuk pencegahan terjadinya kasus kekerasan perempuan dan anak. Itu semua kegiatan pencegahan,” sebutnya.

Kata dia, sasaran sosialisasi dan edukasi ini akan dilakukan ke masyarakat maupun di beberapa sekolah untuk semua tingkatan. Yakni mulai dari SD, SMP hingga SMA.
“Kalau 2020 cuman ke kecamatan dan meminta perpanjangan tangan dari kepala desa untuk menyampaikan ke masyarakat. Kali ini kami turun langsung ke masyarakat dan sekolah-sekolah. Kami akan turun lagi,” pungkasnya. (MSR)

Comment