by

Dampak Pemangkasan 115 Anak Usaha Pertamina

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati membeberkan sejumlah dampak positif pemangkasan anak usaha Pertamina. Secara total, BUMN migas itu mengurangi 115 entitas anak dari 127 menjadi hanya 12 perusahaan.

“Dari sisi organisasi, dari sebelumnya 127 AP (anak perusahaan) sekarang tinggal 12 perusahaan yang kami kelola, jadi kontrol ini bisa kami perbaiki,” ujarnya dalam rapat bersama Komisi VI DPR, Kamis (20/5).

Pengurangan anak usaha itu dilakukan melalui program restrukturisasi Pertamina. Lewat program itu, Pertamina membentuk enam subholding di bawah holding minyak dan gas (migas) dimana perseroan menjadi induk holding. Selanjutnya, anak usaha tersebut dimasukkan dalam enam subholding tersebut.
“Kami fokuskan masing-masing subholding ke satu bisnis saja. Ini menjadi fokus dan risiko bisnis menjadi terisolir, sehingga kalau ada risiko bisnis akan lebih fokus di sana dan fleksibel, karena kami memberikan kewenangan yang utuh kepada masing-masing subholding ini untuk menjalankan bisnisnya,” terang dia.

Selain itu, pemangkasan anak usaha melalui program subholding membuat keuangan perusahaan menjadi lebih sehat.
Tahun lalu, perusahaan migas negara tersebut berhasil memangkas operational expenditure (opex) atau belanja operasional usai pengurangan jumlah anak usaha. Alhasil, Pertamina berhasil meraup laba bersih US$1,04 miliar di tengah pandemi covid-19.

“Kami bisa turunkan opex di tahun lalu, kemudian alhamdulilah walupun semua turun revenue turun, profit turun (dibandingkan 2019), tapi kami tetap bisa positif, angka terakhir (laba bersih) US$1,04 miliar di 2020, saat energy company di luar hampir semuanya negatif,” ujarnya.

Selain itu, Pertamina juga bisa menghemat biaya investasi atau modal hingga US$300 juta usai pembentukan subholding tersebut. Pasalnya, perusahaan bisa melakukan integrasi lewat subholding sehingga mengoptimalkan aset yang ada.
“Kami melihat ada yang redundant atau ada aset eksisting yang sebetulnya bisa digunakan,” jelasnya.

Secara organisasi, ia mengklaim bahwa pembentukan subholding yang berdampak pada pengurangan anak usaha itu membuat pengambilan keputusan lebih efisien. Ia menuturkan tahap pengambilan keputusan bisa dirampingkan dari sembilan tahap menjadi hanya dua tahap saja.
“Dengan pembentukan organisasi yang baru ini memberikan bukti nyata bagaimana proses pengambilan keputusan untuk investasi ini menjasi lebih cepat,” ucapnya. (INT)

Comment