by

Desak Disperindag Tinjau Kelangkaan Mitan

Ambon, BKA- Kelangkaan minyak tanah (mitan) di sebagian wilayah Kota Ambon, hingga kemarin masih terjadi. Sejumlah anggota DPRD Ambon dari fraksi Demokrat, turut mempertanyakan kelangkaan bahan bakar tersebut. Mereka mendesak Disperindag Kota Ambon segera meninjau kelangkaan mitan di masyarakat.

“Kalau Disperindag sebut tidak ada kelangkaan, silahkan turun tinjau di masyarakat apakah terjadi kelangkaan atau tidak. Jangan hanya ngomong tapi tidak turun pantau kondisi masyarakat. Karena sampai tadi ini (kemarin) masih banyak masyarakat yang kesulitan mencari minyak tanah. Ini ada apa, sampai minyak tanah sulit di masyarakat ?,” tanya Ketua Fraksi Demokrat DPRD Kota Ambon, Obed Souissa, kepada wartawan di gedung DPRD Belakang Soya, Kamis (7/1).

Dikatakan, kelangkaan minyak tanah bukan saja terjadi di daerah kecamatan Sirimau, maupun Nusaniwe. Melainkan juga dialami masyarakat kecamatan Baguala. Yakni masyarakat sektiar masih kesulitan untuk memperoleh minyak tanah.

Sehingga ditakutkan, lanjut Obed, terjadi penimbunan minyak tanah yang dilakukan sejumlah oknum distributor maupun pengecer di lapangan. Dan untuk menghindari itu, perlu dilakukan sidak oleh Disperindag Kota Ambon terhadap para distributor maupun pengecer yang ada.

Atau bila perlu melibatkan pihak Pertamina untuk melakukan pengecekan di lapangan, agar dapat memastikan pasokan minyak tanah yang disalurkan dapat mencukupi sesuai yang dijelaskan.

“Kita akan dorong teman-teman fraksi di Komisi II untuk mempertanyakan kelangkaan minyak tanah ini ke Pertamina. Kalau memang disebutkan mencukupi, lalu kenapa bisa terjadi kelangkaan. Silahkan turun ke masyarakat lalu lihat sendiri, pasti banyak yang sibuk mencari minyak tanah. Lalu apakah ada dugaan penimbunan minyak tanah ? ini yang harus diselidiki,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, kelangkaan minyak tanah yang belakangan ini dialami masyarakat, jutru dibantah Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Ambon, Pieter Leuwol. Diakuinya, kesulitan masyarakat dalam memperoleh minyak tanah belakangan ini, tidak bisa dibilang kalau terjadi kelangkaan minyak tanah. Padahal, beberapa pangkalan minyak tanah sendiri, kehabisan stok minyak tanah.

“Terkait minyak tanah, kami sudah melakukan rapat dengan distributor yang ada di Kota Ambon. Jadi kalau mau bilang kelangkaan, tidak juga. Laporan dari para distributor, kalau minyak tanah aman saja. Yah, mungkin ada satu dua pangkalan yang habis. Tapi, masih ada minyaknya,” ungkap Leuwol, Rabu (6/1).

Dijelaskan, para distributor minyak tanah bukan saja mensuplai mitan ke pangkalan, tetapi juga melakukan pengawasan. Ketika stok mitan di pangkalan habis, mereka akan langsung melakukan pendistribusian. “Menyikapi keluhan beberapa masyarakat terkait minyak tanah, kita sudah lakukan langkah antisipasi. Nantinya ada ekstra droping dengan Pertamina. Nantinya pertamina akan tambah kuota dengan maksimum 10 persen tambahan stok minyak tanah,” ujarnya.

“Mungkin saja, cuman di titik dimana minyak tanah terjadi kosong, terus dibilang langka. Tapi sebenarnya, itu tidak langka. Secara keseluruhan di Ambon, tidak ada kelangkaan,” imbuhnya.

Manager Communication, Relations and CSR Regional Papua Maluku Pertamina (Persero), Edi Mangun, saat dikonfirmasi sebelumnya mengaku, stok bahan bakar minyak (BBM) jenis mitan masih tersedia untuk 25 hari kedepan.

Dirinya bahkan mempertanyakan penyebab terjadinya kelangkaan mitan di Kota Ambon. Sebab, suplai dari Pertamina kepada agen-agen mitan dilakukan rutin, sesuai dengan Delivery Order (DO) yang masuk. Sehingga, mitan yang disuplai ke agen seharusnya bisa mencukupi kebutuham, baik pangkalan hingga ke masyarakat sebagai konsumen.

“Stok minyak tanah ditangki Pertamina untuk di Maluku itu masih ada sampai 25 hari. Sangat aman stoknya. Yang jadi pertanyaan, kenapa bisa langka? Padahal suplai rutin dilakukan ke agen, sesuai DO yang masuk. Seharunya bisa mencukupi kebutuhan masyarakat,” beber Edi.

Edi juga meminta agar pemerintah setempat bersama aparar keamanan, bisa turut memantau masalah tersebut. Sebab bukan rana Pertamina untuk melakukan hal tersebut. Dan menurutnya, persoalan kelangkaan yang terjadi, patut ditelusuri, karena ditakutkan ada terjadi penimbunan yang dilakukan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Itu patut ditelusuri pihak yang berkewenangan. Kami tidak mungkin sampai sejauh itu, melacak kenapa sampai hilang di pasaran. Jadi, jangan Pertamina terus yang disalahkan saat minyak tanah ini langka. Padahal kami upayakan stok tetap aman untuk beberapa hari kedepan. Harus ditelusuri tegas hal itu, sehingga tidak menyusahkan masyarakat seperti saat ini,” harap Edi. (UPE)

Comment