by

Desak Tetapkan Tersangka Pasutri Penganiaya Petugas Kebersihan

Ambon, BKA- Pemerhati sosial di Maluku, Herman Syamiloy mendesak aparat Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease agar segera penetapkan Pasangan Suami dan Istri (Pasutri) masing-masing Yacub Louhena dan Dina Louhena sebagai tersangka dalam kasus tindak pidana penganiayaan bersama.

Menurut Syamiloy, penyidik Sat Reskrim Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease tidak punya alasan yang kuat kalau lambat dalam menuntaskan kasus ini.
Sebab, sejumlah bukti-bukti awal sudah diambil penyidik, ketika kasus ini dilaporkan keluarga korban ke kantor Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease.
“Tidak ada alasan kalau polisi mau lama-lama, ini kan kriminal murni dan laporan ini juga kan delik biasa. Maka bukti permuaan itu kan sudah menjadi acuan untuk menuntaskan kasus ini,” ungkap Herman kepada Beritakota Ambon, Jumat kemarin.

Kata dia, sesuai informasi yang diterima pihaknya, penetapan tersangka yang dilakukan penyidik, terkendala hasil visum. Menurutnya, hal tersebut merupakan alasan yang dibuat-buat penyidik semata-mata untuk membuat lambat jalannya kasus ini. “Perlu saya bilang, ini perbuatan murni, jadi kalau memang mereka sudah lihat bukti-bukti melalui pemeriksaan saksi-saksi. Tolong penyidik seriusi. Jika mereka serius tangani masalah ini, saya yakin pasti sudah selesai,” tandas dia singkat.

Sebelumnya,diberitakan koran ini, pasutri ini melakukan penganiayaan terhadap korban inisial EN

Wanita 33 Tahun, Warga Walong Atas, Kecamatan Baguala, Kota Ambon ini dianiaya kedua pasutri yakni Yacub Louhena dan Dina Louhena hingga babak belur. Aksi membabi buti kedua pelaku terjadi pada 25 Juli 2020 di jalan Tulukabessy Mardika Ambon.

Akibat dari kejadian tersebut, korban harus mengalami luka di bawah telinga, memar di seluruh wajah dan cidera serius di bagian kepala.

Theodoron Makarios Soulisa, Kuasa Hukum korban kepada Beritakota Ambon mengungkapkan, kasus penganiayaan bersama yang dilaporkan ke Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease tertuang dalam Laporan Polisi (LP) Nomor.LP-B/585/K/VII/2020/SPKT, 25 Juli 2020. Dan terhitung jedah waktu dua bulan lebih penyidik melakukan pengusutan terhadap kasus ini, namun belum ada penetapan tersangka.

“Jadi terhitung sudah dua bulan lebih, kasus ini masih jalan di tempat. Kita hanya mempertanyakan, mengapa belum ditetapkan kedua pelaku itu sebagai tersangka,” ungkap Soulisa, Senin (14/9).

Rio, sapaan Theodoron Makarios Soulisa ini melanjutkan, proses penetapan tersangka masih terkendala menurut versi penyidik, belum mengantongi hasil visum dokter RS Bhayangkara Polda Maluku. Padahal, disaat dirinya melakukan koordinasi dengan pihak medis di RS Bhayangkara, mereka mengatakan kalau sampai kini belum ada penyidik yang datang untuk mengambil hasil visum tersebut.

“Pernah kita ke RS, tim medis mengatakan kalau penyidik belum ada yang datang mengecek hasil visum. Makanya kita minta supaya penyidik jangan lama-lama dalam penyelidikan kasus ini. Mintakan saja hasil visumnya untuk dijadikan alat bukti dalam menetapkan tersangka,” jelasnya.

Dia pun membeberkan, bukti-bukti yang dikantongi penyidik, dipastikan 75 persen sudah memenuhi dua unsur untuk dilakukan ekspos kasus tersebut. Sebab, saksi-saksi yang sudah diperiksa dalam perkara ini berjumlah 5 orang termasuk saksi korban.

“Jadi kejadian ini awalnya polisi memeriksa 4 saksi lebih dulu, karena korban masih di rawat di RS saat itu. Dan ketika korban sudah sembuh, saya dampingi korban ke Polresta untuk di BAP, nyatanya sampai hari ini status hukum kasus ini masih misterius,” kesalnya.

Untuk itu dia berharap, penyidik Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease lebih serius dalam menanganan kasus ini, sebab, murni tindakan yang dilakukan kedua pelaku merupakan kriminal murni tidak dapat direkayasa dengan bukti palsu . Belum lagi, korban merupakan seorang ibu rumah tangga, yang saban hari juga bekerja sebagai petugas kebersihan di Kota Ambon.

Selain itu, Soulisa menambahkan, aksi penganiayaan bersama terhadap korban ini, tanpa ada alasan yang jelas. Keduanya melukan penganiayaan terhadap korban. Usai dianiaya, korban bersama keluarganya ke RS Bhayangkara Tantui untuk menjalani perawatan medis serta melakukan visum, setelah itu dilaporkan ke Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease untuk ditindak sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.

“Jadi intinya semua kewenangan penetapan tersangka ada pada penyidik. Namun perlu kita kawal proses ini, agar penyelidikan kasus ini tidak terkatung-katung,” tandas Soulisa.(SAD).

Comment