by

Diduga Sebar Hoaks, Raja Porto Lapor Zeth Tetelepta Cs

Ambon, BKA- Diduga menyebar informasi bohong atau Hoaks, Raja Porto Marthen Abraham Nanlohy akhirnya melaporkan balik Zeth Tetelepta dan Agustinus Pattiasina karena diduga melakukan fitnah melalui media massa cetak terkait penyuapan mantan Kepala Kejaksaan Negeri Ambon Cabang Saparua Leunard Tuanakotta.

Dalam laporannya tertanggal 20 Oktober 2020 itu, Nanlohy melaporkan Tetelepta dan Pattiasina ke Direktorat Reserse dan Kriminal Kepolisian Daerah Maluku. Saat memberikan laporan pengaduannya, Nanlohy didampingi tiga kuasa hukumnya masing-masing Rony Samloy, Jenci Ratumassa dan Yeanly Lopulalan.

Nanlohy juga melaporkan salah satu oknum pimpinan media massa cetak yang acapkali memberitakan berita-berita miring dan hoaks seputar dugaan korupsi Dana Desa/Alokasi Dana Desa Porto, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, tahun anggaran 2015,2016 dan 2017, berita soal kebun PKK Porto dan penyuapan Tuanakotta oleh Nanlohy.

Dalam laporannya Nanlohy menyatakan dirinya adalah Kepala Pemerintah Negeri Porto, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, yang diangkat sesuai Surat Keputusan Bupati Maluku Tengah sejak tahun 2015 hingga saat ini, sedangkan Tetelepta adalah mantan Ketua Saniri Negeri Porto yang pernah diberhentikan Nanlohy karena Tetelepta dianggap tidak menciptakan harmonisasi peran di antara perangkat Pemerintah Negeri Porto dan masyarakat. Pattiasina adalah mantan Kepala Wilayah Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah.

Nanlohy mengakui selama dirinya melaksanakan tugas pokok dan fungsi sebagai Raja Porto banyak sekali upaya-upaya licik yang diduga kuat dilakukan oknum-oknum tertentu dengan menyebarkan berita-berita bohong di media massa cetak terbitan Kota Ambon. ’’Ada salah satu Koran harian di Ambon di mana pimpinannya merupakan putra asli Porto yang selama ini ditengarai berkonspirasi dengan Tetelepta dan kawan-kawan untuk menyiarkan berita-berita bohong (hoax) soal penyalahgunaan DD/ADD Porto yang tendensius dan sangat menyudutkan saya, dan bahkan secara langsung telah memfitnah dan mencemarkan nama baik saya,’’ tutur Nanlohy.

Menurut Nanlohy ada berita-berita bohong yang sering diberitakan koran tersebut misalnya soal dugaan penyalahgunaan Kebun Program Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Negeri Porto yang diberitakan telah merugikan keuangan negera lebih kurang Rp.50.000.000, padahal selama ini Pemerintah Negeri Porto tidak pernah memprogramkan Kebun PKK. Setelah klarifikasi di media massa cetak di Ambon, selama lebih kurang tiga bulan berita ini tidak diulangi lagi atau tidak diberitakan lagi.

Belakangan, kata Nanlohy, setelah kasus ADD/DD Porto dilimpahkan Kejaksaan Negeri Ambon Cabang Saparua ke Pengadilan Negeri Kelas 1 A Ambon dengan menempatkan dirinya di kursi pesakitan, justru dengan sadar dan terang-terangan Tetelepta dan Pattiasina memberikan komentar di media massa seakan-akan Nanlohy telah menyuap mantan Kepala Kejaksaan Negeri Ambon di Saparua Leunard Tuanakotta sebesar Rp. 159 juta untuk menghentikan kasus Nanlohy. Padahal uang sebanyak itu adalah sisa lebih pengelolaan anggaran (SILPA) Negeri Porto Tahun 2015, 2016, 2017 dan 2018 yang telah dikembalikan ke Negara karena versi Tuanakotta uang sebanyak itu adalah bagian dari kerugian Negara yang harus dikembalikan ke Negara.

Terhadap pemberitaan yang dilakukan Tetelepta dan Pattiasina yang mana Pattiasina berasumsi atau mengarang cerita kalau Pattiasina pernah mendengar penuturan Nanlohy yang mengatakan Nanlohy pernah menyuap mantan Kejari Ambon di Saparua, Leunard Tuanakotta. ’’Informasi itu menjadi laporan Zeth Tetelepta dan Agus Pattiasina ke Kejaksaan Tinggi Maluku dan telah saya klarifikasi di depan pemeriksa Kejaksaan Tinggi Maluku pada Senin, 12 Oktober 2020 pukul 13.00 WIT sampai pukul 19.00 WIT atau selama lebih kurang 6 jam saya memberikan klarifikasi. Artinya, laporan yang diajukan Tetelepta dan Pattiasina adalah laporan tidak benar atau berita bohong yang berdampak fitnah dan pencemaran nama baik terhadap saya,’’ jelas Nanlohy. Polisi tengah mengusut laporan pengaduan Nanlohy ini. (SAD)

Comment