by

Diguncang Gempa M 6.1 dan 13 Kali Gempa Susulan, Warga Malteng Cari Dataran Tinggi

Masyarakat Kabupaten Maluku Tengah dibuat panik hingga mengungsi ke dataran tinggi, akibat diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitude (M) 6.1, pukul 13.43 WIT, Rabu (16/6). Beruntung gempa ini tidak berpotensi tsunami.

Informasi bencana gempa ini telah viral, lewat sejumlah foto hingga video amatir yang diambil warga setempat pasca gempa. Dimana warga di beberapa daerah yang dekat dengan titik gempa, terlihat berhamburan ke luar rumah dan lari menuju daerah perbukitan.

Bahkan di beberapa desa pesisir yang dekat dengan lokasi gempa, terutama Kecamatan Tehoru hingga Siwalalat, memilih mengungsi ke tempat yang tinggi. Sebab air laut tiba-tiba naik, dan membuat warga takut akan terjadi bencana tsunami.

BMKG kemudian mengeluarkan peringatan dini lewat media sosial dan lainnya, agar warga bisa menjauhi daerah pesisir pantai. Bahkan warga dihimbau untuk waspada gempa susulan dan potensi tsunami, akibat longsor bawah laut.

Sementara itu, hasil Analisis Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukan, informasi awal gempa bumi ini berkekuatan M=6,1 yang selanjutnya dilakukan pemutakhiran menjadi Mw=6,0.
Dimana episenter gempa bumi terletak pada koordinat 3,42 Lintang Selatan (LS) dan 129,57 Bujur Timur (BT). Atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 69 km arah Tenggara Kota Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, pada kedalaman 19 km.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktifitas sesar lokal. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan, bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan sesar turun (normal fault),” ungkap Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Bambang Setiyo Prayitno, lewat rilisnya yang diterima koran ini, beberapa saat setelah gempa.

Ia menjelaskan, guncangan gempa bumi ini dirasakan di kecamatan Tehoru, Masohi, Bula, Kairatu, Saparua dan Wahai III MMI. Dimana getaran dirasakan nyata dalam rumah.

“Terasa getaran seakan akan truk berlalu. Untuk Pulau Ambon II-III MMI, getaran dirasakan oleh beberapa orang. Benda-benda ringan yang digantung bergoyang. Hingga saat ini BPBD dan masyarakat setempat melaporkan adanya dampak kerusakan pada beberapa rumah tinggal, salah satunya pagar gereja di Desa Sounulu, Kecamatan Tehoru akibat gempabumi tersebut. BPBD masih terus mendata kondisi dampak gempa bumi ini,” terangnya.

Dikatakan, hasil pemodelan tsunami dengan sumber gempa bumi tektonik menunjukkan, gempa bumi tersebut tidak berpotensi tsunami. “Namun berdasarkan hasil observasi tinggi muka air laut, di stasiun Tide Gauge Tehoru menunjukkan adanya kenaikan muka air laut setinggi 0,5 meter. Hal ini diperkirakan akibat dari longsoran bawah laut,” bebernya.

Bambang mengaku, hingga pukul 15.35 WIT sesuai hasil monitoring BMKG, telah terjadi 13 gempa bumi susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar M=3,5.

“Kepada masyarakat terutama di wilayah sepanjang Pantai Japutih sampai Pantai Atiahu Kabupaten Maluku Tengah, Pulau Seram, untuk waspada gempa bumi susulan dan potensi tsunami akibat longsor di bawah laut. Maka segera menjauhi pantai menuju tempat tinggi, apabila merasakan guncangan gempa cukup kuat,” pesannya.

Menurut dia, pihaknya terus melakukan monitor terhadap gempa susulan yang terjadi dan dampak terhadap kenaikan muka air laut. Untuk itu pihaknya tetap menghimbau masyarakat, agar tetap tenag dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Masyarakat juga dihimbau untuk menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa. “Selalu lakukan pemeriksaan untuk memastikan bangunan tempat tinggal tahap gempa, atau tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali ke dalam rumah. Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG,” himbaunya. (UPE)

Comment