by

Disdik Diminta Tindak Tegas Sekolah Yang Melanggar Aturan

Ambon, BKA- Kepala Sekolah (Kepsek) SD Negeri 87 Ambon, Abubakar Wattimena, meminta Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Ambon agar memberikan teguran tegas pada Satuan Pendidikan (SP) atau sekolah, yang mencoba melanggar aturan protokol kesehatan.

Menurut Wattimena, sejak virus corona atau Covid-19 mulai menyebar di Kota Ambon, semua sekolah diintruksikan untuk melakukan proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar Dari Rumah (BDR). Sehingga sampai saat ini pola pembelajaran secara online maupun offline terus diterapkan di sekolah yang dipimpinnya.

Sehingga, lanjutnya, aturan itu harus diberlakukan bagi semua tingkatan sekolah, tanpa terkecuali. “Artinya, kalau kita berbicara dari segi regulasi, memang tidak boleh, karena Perwali itu sudah jelas. Secara nasional, peraturan Covid-19 juga sudah jelas. Tapi terkadang ada yang melanggar aturan itu. Kan sebenarnya itu tidak boleh, karena belum ada info selanjutnya dari pemerintah. Jadi mau tidak mau, kita harus tetap laksanakan belajar secara Daring juga offline. Bahwa itu kita siapkan materi dan diberikan, tanpa ada tatap muka. Nanti dikembalikan ke sekolah, bisa belajar lewat buku yang telah di berikan. Jangan belajar secara sembunyi-sembunyi di rumah atau di sekolah. Ini kan peraturan untuk cegah virus. Sebab virus ini dia tidak mau tahu. Mau secara sembunyi-sembunyi atau tidak, tetap saja terinfeksi karena tidak kelihatan. Jadi mungkin kita bisa sembunyi dari aparat atau aturan, tapi tidak untuk virus, karena kita tidak bisa lihat. Jadi ketika protokoler kesehatan atau para pakar kesehatan sudah katakan tidak boleh ketemu, ya tidak boleh. Kalau masih tetap belajar tatap muka, berarti sudah melanggar. Dan itu harus di tegur oleh Disdik,” ucap Wattimena, Rabu (30/9).

Dia tidak memungkiri kalau sejak PJJ dilakukan, anak-anak didik tidak belajar secara baik. Sebab yang diutamakan pemerintah saat ini adalah memutus mata rantai penyebaran virus, sehingga proses belajar untuk sementara dilakukan secara jarak jauh.

“Memang mungkin karena jenuh. Tapi saya rasa tidak seperti itulah. Kalau belajar tatap muka, saya rasa ini mungkin disengajakan. Jadi kalau memang ada temuan seperti itu, ya pelanggaran. Sebab itu sudah ada aturan yang mengatur. Sebetulnya kita sudah pertemuan dengan orangtua dan sudah dibicarakan secara baik. Bahwa kita semua tahu, kalau belajar yang paling efektif itu hanya tatap muka. Kalau belajar Daring ini, Pak Walikota bilang satu menit pertama baik, tapi menit kedua lagi anak sudah tidur. Jadi jangan bilang kalau belajar sembunyikan dari pemerintah, kalau virus ini tidak di lihat. Sebetulnya kajenuhan itu tetap ada. Karena mereka kan biasa di sekolah, canda gurau dengan anak anak, tapi karena keadaan ini sehingga kita tidak bisa hindari. Jangan kita paksakan, justru anak kita nanti yang kena dampaknya,” pungkas Wattimen. (LAM)

 

Comment