by

Disperindag Ambon Persulit Pedagang Mardika

Berbagai masalah terus bermunculan pasca relokasi pedagang Gedung Putih Mardika ke pasar Apung Mardika belum lama ini. Selain biaya lapak yang tinggi dan tanpa listrik, ratusan pedagang juga dipersulit dengan proses pengundian yang dilakukan Disperindag Kota Ambon.

Data yang diterima Koran ini, Jumat (9/7), hari pertama pencabutan undian untuk mendapatkan lapak di pasar Apung itu, tidak dimulai dengan angka 1. Melainkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) ini justru memulai dengan angka 200, dengan meniadakan angka 1-199.

Parahnya, bagi lapak dengan angka 200 keatas, sengaja ditempatkan di tempat yang tidak strategis (bagian belakangan). Sementara untuk angka 1-199 yang tidak disebutkan dalam pengundian itu, justru ditempatkan di lokasi yang strategi.

Sehingga diduga, proses pengundian yang dilakukan Disperindag Kota Ambon, tidak dilakukan dengan benar. Dimana ratusan lapak yang tidak disebutkan itu sudah diduga dijual dengan harga yang lebih tinggi.

Padahal, ratusan pedagang yang telah menempati lapak di pasar Apung ini, masing-masing telah membayar biaya sebesar Rp 3 juta per lapak. Katong (kita) menduga ada kongkalikong dinas (Disperindag) dengan pihak ketiga. Kerja suka-suka, amburadul, ungkap salah satu pedagang, yang menolak namanya dikorankan, saat menguhubungi Koran ini.

Menurutnya, dalam rencana revitalisasi Pasar Mardika, ratusan PKL selalu dirugikan oleh para pemangku kekuasaan. Sebab segala sesuatu menyangkut kepentingan PKL harus dengan uang.

Sementara itu, Kepala Disperindag Kota Ambon, Sirjhon Slarmanat, yang beberapa kali menghindar saat ditmui wartawa, belum dapat dikonfirmasi terkait persoalan ini, hingga berita ini naik cetak. (IAN)

Comment