by

Dokter Marini Bisa Tersangka Pemalsuan Antigen

BURU-BKA,Kepolisian Resort (Polres) Pulau Buru, terus mendalami kasus dugaan pemalsuan surat rapid test antigen di Apotek Marini Farma, Jalan Baru, Kota Namlea, Kabupaten Buru. Pemilik dan penanggung jawab apotek yang mengeluarkan pemalsuan hasil tes cepat ini, yakni dr. Ninik Marini Prawira.

Menurut Kasat Reskrim Polres Pulau Buru, Iptu Handry Dwi Ashar, dalam kasus pemalsuan surat rapid test antigen tidak menutup kemungkinan dokter Marini ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini.

“Iya, tetap kita akan melakukan pemeriksaan dan menggunakan alat bukti yang ada, kalau memang alat buktinya cukup. Tidak ada ada alasan bagi kami menetapkan dia (dr. Marini) sebagai tersangka,” kata Iptu Handry, kepada BeritaKota Ambon, di ruang kerjanya, Jumat (6/8).

Dia mengatakan, dalam melakukan proses penyidikan kasus ini, pihaknya tetap tetap menggunakan asas praduga tak bersalah. “Insya Allah kita tetap objektif sesuai aturan yang ada dan sesuai dengan SOP dalam menetapkan seseorang menjadi tersangka,” ujar dia.

Dalam kasus ini, ada tiga orang tersangka yakni seorang oknum petugas Satpol PP berinisial SS, dan dua karyawati apotik Marini Farma, yaitu IS dan SM. Oknum ASN Satpol PP tersebut diketahui sering menjadi calo pembuatan rapid antigen palsu dengan iming-iming agar surat yang dibuat cepat dikeluarkan dan tanpa mengikuti prosedur berlaku.

“Nah, ini dari hasil penyidikan sementara masih tiga orang kemarin kalau tidak salah. Dan kita akan tetap berprinsip kita akan kejar pelaku-pelaku intelektualnya,” ungkapnya.

Handry mengungkapkan, terkait kasus ini pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Buru terkait tiga orang tersangka tersebut.

“Untuk terkait kasus antigen kita sudah perlengkapan berkas dan kita sudah koordinasi juga dengan kejaksaan. Ada beberapa petunjuk yang masih sementara kita lengkapi dari kejaksaan. Mungkin dalam waktu dekat ini kita akan kirim kembali berkasnya yang sudah kita lengkapi, sesuai dengan petunjuk dari kejaksaan,” sebutnya.

Dia menambahkan, pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap dokter Marini, pada Kamis 1 Juli 2021 lalu. Namun untuk rinciannya, pihaknya tidak bisa jelaskan ke publik. Karena pada dasarnya dalam pemeriksaan menggunakan asas praduga tak bersalah.

Baca juga: Belum Ganti Rugi Lahan, Kantor Dinas PU SBB Disegel

“Tapi tetap kita kejar pembuktian, apabila terlibat ya tidak menutup kemungkinan bisa menjadi tersangka juga. Karena memang pada saat kejadian, si dokter Marni ini dia posisinya sudah lama berada di Malang, Jawa Timur. Tapi itu tidak menutup kemungkinan juga, makanya tetap kita lakukan pemeriksaan,” pungkasnya.

Sementara dari hasil penangkapan tiga orang tersangka, polisi menyita sejumlah barang bukti, diantaranya surat rapid tes antigen palsu, dua unit laptop, dua unit printer, empat unit handpone, tiga lembar KTP, uang tunai Rp 9.800.000 rupiah.

Dan modus yang dijalankan, yakni dengan cara menawari calon pelaku perjalanan surat keterangan negatif rapid antigen tanpa mengikuti tes. Untuk surat rapid test antigen dipatok Rp 250 sampai Rp 300 ribu.

Atas perbuatan mereka, dijerat dengan Pasal 263 ayat (1) KUHP Junto Pasal 55 ayat (1) ke-1e KUHP dengan ancaman pidana 6 Tahun penjara. (MSR)

Comment