by

DPRD Temukan Proyek Siluman di Eri

Ambon, BKA- Anggota DPRD Kota Ambon, Christianto Laturiuw temukan proyek mangkrak pembangunan pasar kuliner di Dusun Eri, Negeri Nusaniwe, Kecamatan Nusaniwe. Anehnya, proyek senilai Rp 1,107 miliar dari Alokasi Dana Desa (ADD) tahap II tahun 2018, ini tidak pernah diusulkan di Musrembang.

Kepada wartawan, Laturiuw mengaku, proyek pembangunan pasar kuliner, ternyata tidak pernah diusulkan ataupun ditetapkan dalam Musrembang. Baik tingkat desa, kecamatan maupun kota.

“Tadi kita turun bersama Raja yang baru dan Saniri. Kita sudah lihat secara fisik. Memang kita belum lihat secara riil soal penggunaan anggarannya. Tadi sepintas kita konfirmasi 1,1 miliar. Tidak tahu ini atas usulan siapa, tiba-tiba dilakukan pembangunan. Bagi kami ini sangat keterlaluan, dengan adanya pembangunan fisik dengan menggunakan ADD, tapi itu tidak dituntaskan dari 2018,” beber Laturiuw, di gedung DPRD Belakang Soya, Kamis (3/11).


Diakuinya, sesuai kunjungannya, lokasi pembangunan proyek tersebut ternyata sudah mendapat larangan dari Dinas Perikanan dan Kelautan sebelumnya. Parahnya, pembangunan tetap dilakukan. Bahkan papan larangan membangun justru dibuang.

“Terkait ini, kami sudah sampaikan ke pimpinan komisi. Agar sekembalinya dari agenda kunjungan kerja, segera memanggil pihak-pihak terkait, agar komisi juga mendapat penjelasan. Dan ini harus dituntaskan,” tukasnya.

Pria yang akrab disapa Tito ini menilai, proyek siluman ini sebelumya pernah dilidik oleh pihak kepolisian. Bahkan ada sekitar 10 orang yang diperiksa. Namun hingga saat ini, tidak ada kelanjutan pemeriksaan kasus tersebut.

“Informasi tadi saat kunjungan, ternyata polisi sudah turun. Sehingga dengan ini, masyarakat juga ingin tahu bagaimana kelanjutannya,” katanya.


Tito juga menyebutkan, dalam laporan Pemerintah Kota Ambon ke DPRD, untuk pembangunan fisik tahun 2018, tidak pernah disebutkan tentang proyek pembangunan pasar kuliner di dusun Eri. Dan jika dalam rapat nanti ada temuan unsur tindak pidana dalam proyek tersebut, maka pihaknya akan merekomendasikan untuk proses hukum.

“Padahal, dengan anggaran 1,1 miliar itu, sementara pembangunannya baru pengecoran lantai dan tiang saja. Secara fisik 1,1 miliar dengan kondisi fisik bangunannya tidak wajar. Saat ini peran Inspektorat seperti apa ? Ternyata setelah dikonfirmasi dengan pihak Inspektorat, rekomendasi mereka adalah meminta agar proyek ini segera dituntaskan. Sementara ini tidak ada dalam Musrembang,” kesal Tito.

Sesuai data yang diterima koran ini, proyek pembangunan pasar kuliner ini menjadi garapan Penjabat Sementara (Pjs) Negeri Nusaniwe, Dominggus Wattilete di tahun 2018 bersama adik kandungnya yang dipercayakan sebagai Bendahara, Dominggus Novie Mendez, untuk mendapatkan bayaran dari proyek itu.

Pasar kuliner itu merupakan perubahan program dalam APBDes tahun 2018 yang ditolak oleh Saniri Negeri. Awalnya, Pjs memasukan kegiatan pembangunan pagar negeri, lalu dirubah lagi menjadi pembangunan pasar kuliner. Sementara di RAB tertulis pembangunan lapangan upacara. (UPE)

Comment