by

Dua Polisi Penjual Senpi Akui Bersalah

Dua anggota Polri yang dijerat dalam kasus penjualan senjata api (senpi) dan amunisi di Papua, mengakui bersalah dihadapan majelis hakim di persidangan Pengadilan Negeri Ambon, Kami, (27/5).

Pengakuan kedua polisi tersebut disampaikan langsung melalui kuasa hukumnya, Tomas Wattimury dalam nota pledoi atau pembelaannya.

“Pada prinsipnya kita minta keringanan hukuman yang mulia, karena ancaman 10 tahun penjara terhadap kedua terdakwan ini dianggap terlalu berat,” ungkap Watimury dalam berkas pledoinya.

Kata dia,selian kedua oknum polisi itu, yakni, San Herman Palijama alias Sandro (34), dan Muhammad Romi Arwanpitu alias Romi (38). Rekannya rekannya yang disidangkan dalam kasus yang sama pun meminta keringanan hukuman.

“Selian kedua anggota Polri ini, rekan-rekannya juga minta keringanan, pasalnya, para terdakwa ini punya tanggungjawab menafkahi keluarga. selain itu, mereka ini sudah mengakui kesalahannya di persidangan,” tandas Wattimuty.

Setelah mendengarkan pledoi kuasa hukum terdakwa, hakim menunda sidang hingga pekan depan untuk agenda putusan majelis hakim.
Sebelumnya jaksa penuntut umum Kejari Ambon, menuntut dua angota polri tersebut agar divonis penjara selama 10 tahun. Selain keduanya, jaksa juga menutut empat rekannya dengan pidana penjara bervariasi.
Di dalam amar tuntutan jaksa penuntut umu Eko Nugroho menyatakan, selain kedua anggota Polri tersebut, rekannya Sahrul Nurdin (39), dituntut 12 tahun penjara, sementara Ridwan Mohsen Tahalua (44), Handri Morsalim (43) dan Andi Tanan (50) dituntut delapan (8) tahun penjara.
Enam terdakwa ini dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana secara bersama-sama menerima, menyerahkan, membawa, menguasai, menyimpan, menyembunyikan, mempergunakan senjata api dan amunisi tanpa hak sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang mengubah “Ordonnantie Tijdelikke Bijzondere Strafbepalingen” (STBL.1948 NO.17) jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Pasal 338 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
“Meminta kepada majelis hakim, agar memvonis enam terdakwa ini dengan pidana penjara yang telah disebutkan secara lengkap dalam amar tuntutan tersebut,” sebut jaksa dalam sidang yang dipimpin ketua majelis hakim Pasti Tarigan cs, sementara para terdakwa didampingi kuasa hukumnya,Thomas Wattimury cs.
Yang memberatkan, lanjut jaksa, perbuatan para terdakwa meresahkan masyarakat,senjata-senjata dan amunisi tersebut digunakan untuk merongrong negara,terdakwa Sahrul Nurdin pernah di hukum alias residivis dan menjadi pelaku utama dari peredaran senjara api tersebut. Selain itu,terdakwa San Herman Palijama oknum anggota polri ini pernah menjual senjata laras panjang sebanyak dua kali ke Papua, sedangkan terdakwa Muhammad Romi Arwanpitu yang juga anggota polri tersebut pernah di hukum dalam kasus narkotika. Sementara hal yang meringankan, para terdakwa berlaku sopan di persidangan dan mengakui semua perbuatannya.(SAD)

Comment