by

Dua Polisi Penjual Senpi Diancam 10 Tahun Bui

Dua oknum Anggota Polri yang terjerat kasus penjualan senjata api (senpi) dan amunisi di Papua, dituntut JPU Kejari Ambon dengan pidana penjara selama 10 tahun, pada sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Ambon, Rabu (19/5).

Dua oknum Polri yang bertugas di Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease itu, yakni, San Herman Palijama alias Sandro (34) dan Muhammad Romi Arwanpitu alias Romi (38).

Selain keduanya, jaksa juga menutut empat rekannya dengan pidana penjara bervariasi.

Di dalam amar tuntutan JPU Eko Nugroho, menyatakan, selain kedua Anggota Polri tersebut, rekannya Sahrul Nurdin (39) dituntut 12 tahun penjara, sementara Ridwan Mohsen Tahalua (44), Handri Morsalim (43) dan Andi Tanan (50), dituntut 8 tahun penjara.

Enam terdakwa ini dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana secara bersama-sama, menerima, menyerahkan, membawa, menguasai, menyimpan, menyembunyikan, mempergunakan senjata api dan amunisi tanpa hak, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang mengubah “Ordonnantie Tijdelikke Bijzondere Strafbepalingen” (STBL.1948 NO.17), jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Pasal 338 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Meminta kepada majelis hakim, agar memvonis enam terdakwa ini dengan pidana penjara yang telah disebutkan secara lengkap dalam amar tuntutan tersebut,” kata jaksa, dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Pasti Tarigan cs. Sementara para terdakwa didampingi kuasa hukumnya, Thomas Wattimury cs.

Yang memberatkan, lanjut jaksa, perbuatan para terdakwa meresahkan masyarakat, senjata-senjata dan amunisi tersebut digunakan untuk merongrong negara. Terdakwa Sahrul Nurdin pernah dihukum alias residivis dan menjadi pelaku utama dari peredaran senjata api tersebut. Selain itu, terdakwa San Herman Palijama oknum anggota Polri ini pernah menjual senjata laras panjang sebanyak dua kali ke Papua. Terdakwa Muhammad Romi Arwanpitu yang juga anggota polri tersebut pernah di hukum dalam kasus narkotika.

Yang meringankan, para terdakwa berlaku sopan di persidangan dan mengakui semua perbuatannya.

Jaksa Penuntut Umum dalam dakwaannya menyebutkan, perbuatan para terdakwa terjadi sejak 2020 hingga 2021, di beberapa tempat. Yaitu di pangkalan ojek Desa Batu Merah, Pasar Arumbai Mardika, Pasar Mardika Ambon, bawah Jembatan Merah Putih, dan kawasan Kapaha, Kecamatan Sirimau Kota Ambon.(SAD)

Comment