by

Dua Tombak Tertancap di Tubuh Esias Nurlatu

Ambon, BKA- Esias Nurlatu (40), Warga Desa Watimpuli, Kecamatan Lolong Guba, ditemukan tewas di Gunung Kadianlahing yang merupakan jalan lintas menuju Desa Watimpuli, sekitar Sabtu (24/4), sekitar pukul 15.00 WIT.

Dia tewas setelah tubuhnya tertancap dua tombak serta sejumlah luka akibat sayatan benda tajam yang dilakukan oleh Orang Tak Dikenal (OTK).

Sontak, peristiwa itu menghebohkan masyarakat di Dataran Waeapo. Sebab dua bulan lalu, warga dari Desa Watimpuli, yakni, Mantimbang Nurlatu juga terlibat pembunuhan seorang warga dari desa lain, bernama Manpapal Latbual.

Akibatnya, warga menjadi khawatir bahkan takut berlalu lalang mengendarai kendaraan roda dua maupun roda empat di Gunung Kadianlahing. Padahal jalan itu merupakan jalan pintas yang menghubungkan Kabupaten Buru dengan Kabupaten Buru Selatan (Bursel).

Paur Humas Polres Buru, Aipda MYS Djamaluddin, mengaku, motif aksi pembunuhan sadis ini masih dalam penyelidikan. Akan tetapi ada dugaan, kalau hal itu dilakukan karena indikasi aksi balas dendam.

Untuk saat ini, Polres Buru masih mendalami kasus itu dengan melakukan pemeriksaan sejumlah saksi. Bahkan telah ada tiga nama yang menjadi saksi kunci, yakni, MN, MNH dan MLN, karena mereka yang pertama kali mengetahui insiden pembunuhan itu.

“Pelaku dalam penyelidikan. Sementara dari TKP juga diamankan sejumlah barang bukti, antara lain, ada dua buah mata tombak yang masih melekat di tubuh korban, yang diduga milik pelaku. Dua buah gagang tombak yang diduga juga milik pelaku. Selain itu, ada satu buah parang, baju kaos warna biru dan celana pendek warna merah milik korban,” kata Aipda Djamaluddin, kepada BeritaKota Ambon, Minggu (25/4).

Ia mengungkapkan, kronologis kejadian menurut keterangan saksi berinisial MLN, pada hari Sabtu, tanggal 24 April 2021, pukul 15.00 Wit, korban bersama para saksi pulang belanja dari Dusun Mesayang, Desa Nafrua, Kecamatan Lolong Guba. Pada saat korban dan para saksi melintas di Gunung Kadianlahing (jalan menuju Desa Watampuli) dengan posisi korban berada sekitar 25 meter di belakang para saksi.

Kemudian para saksi mendengar teriakan korban. Para saksi melihat ke belakang. Terlihat para pelaku berjumlah kurang lebih 7 orang keluar dari arah tebing, dan menombak korban. Setelah melihat kejadian itu, para saksi melarikan diri ke Desa Watampuli dan melaporkan kejadian tersebut kepada Kepala Soa Watampuli, Linus Nurlatu.

“Setelah mendapat laporan dari para saksi, kemudian Kepala Soa Watampuli, bapak Linus Nurlatu, bersama masyarakat watampuli menuju ke TKP dan melihat korban sudah tergeletak di samping jalan, dengan kondisi badan serta kepala penuh luka akibat sayatan benda tajam dan terdapat dua buah mata tombak yang masih melekat pada tubuh korban, serta satu buah gagang tombak tertancap dan satu buah gagang tombak tergeletak di samping korban,” kata Djamaluddin.

Lanjutnya, kemudian kepala Soa Watampuli, Linus Nurlatu, bersama masyarakat Desa Watampuli berupaya mencari para pelaku di sekitar TKP. “Namun tidak ditemukan pelaku. Kemudian kepala soa melaporkan kejadian tersebut kepada pihak Kepolisian,” terang Djamaluddin.

Walau kasusnya terjadi Sore hari, namun Polisi baru mendapat laporan beberapa jam setelah insiden itu terjadi. Setelah mendapatkan laporan tersebut, Kapolsek Waeapo, Ipda Zainal dan anggotanya, serta dibantu sejumlah anggota Resmob Kompi 3 Yon A Pelopor Namlea, langsung menuju TKP dan tiba pukul 20.30 WIT.

“Pukul 21.38 WIT, Kasat Reskrim Polres Pulau Buru, Iptu Hendri Dwi Ashari, bersama tim Buser dan Inafis Polres Pulau Buru juga tiba di TKP, untuk melakukan olah TKP dan dilakukan pemasangan police line,” tegasnya.

Setelah memasang police line atau garis polisi di lokasi kejadian, kata Djamaluddin, Kasat Reskrim Polres Pulau Buru langsung bergerak cepat mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi. Usai olah TKP, korban langsung dibawa ke rumah sakit untuk divisum. (MSR)

Comment