by

Dugaan Human Trafficking Karaoke Cempaka Sari Dobo

Ambon, BKA- Satuan Reskrim Polres Kepualauan Aru tengah menyelidiki dugaan kasus human trafficking atau perdangangan orang, yang dilakukan pihak Cempaka Sari Karaoke yang berlokasi di pusat Kota Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru.

Kapolres Kepulauan Aru, AKBP Sugeng Kundarwanto, mengungkapkan, penyelidikan tersebut dilakukan berdasrkan pengakuan salah satu calon pramuria di karaoke tersebut.

Awalnya, dugaan trafficking itu terungkap pada 5 Maret 2021 lalu. Saat itu, seorang mucikari inisial MB alias M menjemput RHW alias R, CS alias C dan N, di bandara Rar Gwamar Dobo, sekitar pukul 10.00 Wit.

Ketiganya akan dipekerjakan di karaoke Cempaka Sari sebagai pramuria, untuk melayani tamu pria hidung belang yang hendak minum, sekaligus melayani hubungan badan/sexual layaknya suami isteri.

Pada proses penjemputan itu, salah satu korban, RHW melihat seorang petugas dan menemuinya. Dia menceritakan masalah yang dia alaminya. Dia merasa dibohongi dengan perjanjian kerja yang tidak sesuai kesepakatan.

“Jadi dia (korban) ceritakan masalahnya ke petugas. Dan petugas menyarankan untuk melapor di Polres. Dan dia melapor. Akhirnya terkuak semua modus operandi pelaku,” terang Kapolres, kemarin.

Lanjut Kapolres, modus operandi yang digunakan, tersangka MB alias M bekerjasama dengan S alias B, yang melakukan perekrutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, dan memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain sejak dari Jakarta menuju Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, yang kemudian dipekerjakan di Karaoke Cempaka Sari sebagai pramuria, dengan iming-iming awal pendapatan sebesar Rp 2.000.000 per hari. Namun kenyataannya, pernyataan pelaku tersebut tidak sesuai realita.

“MB alias M ini bekerjasama dengan S alias B. Mereka rikrut pekerja dari luar Dobo, dengan iming-iming upah sebesar Rp 2.000.000, namun kenyataannya tak sesuai itu,” jelas Kapolres.

Namun setelah tiba di tempat hiburan malam karaoke Cempaka Sari, tambah Kapolres, korban (RHW) kemudian diberitahukan oleh pelaku, bahwa pekerjaannya adalah menemani tamu minum dan melayani tamu berhubungan badan dengan kisaran harga minimal Rp 300.000 sampai dengan Rp 700.000 untuk short time, dengan menggunakan kamar-kamar yang sudah disediakan di karaoke Cempaka Sari.

Sedangkan jika ingin bermalam keluar (BL) dengan tamu, harga minimal Rp 1.000.000. Padahal upah sebenarnya yang diperoleh sebagal pramuria hanyala premi dari minuman Bir per/botol Rp 7.000. Tidak ada gaji bulanan seperti yang dijanjikan.

“Apabila bermalam dengan tamu (berhubungan badan) dikamar-kamar yang disediakan, maka pramuria wajib membayar uang kamar kepada Pebla karaoke Cempaka Sari sebesar Rp 40.000,- sampai dengan Rp 120.000. Apabila bermalam keluar (BL), maka diwajibkan membayar uang tender sebesar Rp 300.000. Ya, inilah modus-modus si tersangka itu,” ungkap Kapolres.

Melalui modus busuk itu, korban RHW akhirnya terlilit hutang sebesar Rp 8.201.000. Padahal korban sendiri tidak tahu mengapa dia terlilit hutang sebanyak itu. Sebab semua rincian yang menjadi hutang korban, tidak pernah dibicarakan sejak awal.

“Pelaku ini terbilang licik. Dia memakai berbagai macam cara untuk memeras korban,” ujar Kapolres.

Untuk itu, dalam upaya penyelidikan yang dilakukan Polres Kepulauan Aru, penyidik telah menghadirkan kurang lebih sembilan orang saksi untuk dimintai keterangan, disertai dengan sebelas barang bukti.

Pasal yang disangkakan terhadap pelaku, yakni, Pasal 2 ayat (1) atau ayat (2) dan/atau Pasal 10 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), di pidana dengan pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun, dan pidana denda paling sedikit Rp 120.000.000 dan paling banyak Rp 600.000.000.

Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang tereksploitasi, maka pelaku dipidana dengan pidana yang sama, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan atau ayat (2).

“Jadi dalam pengembangan kasus ini, tidak menutup kemungkinan akan muncul calon tersangka lain, yaitu, SW alias BNT dan SP alias GL sebagai pemilik karauke Cempaka Sari,” tutup Kapolres. (WAL)

Comment