by

Ekonomi Lumpuh, Warga Aru Minta PT. PBR Dibuka

DOBO-BKA, Pasca PT Pusaka Benjina Resources (PBR) ditutup akibat moratorium yang dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) saat dijabat Susy Pudjiastuti, aktivitas perekonomian warga desa Benjina dan desa di wilayah Kecamatan Pulau-Pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru lumpuh total.

Warga meminta agar PT PBR dibuka kembali, karena roda perekonomian yang dulunya berputar cepat berangsur-angsur melemah, lantaran tingginya angka pengangguran.

“Memang benar, pasca PT. PBR ditutup, aktifitas perekonomian masyarakat Aru khususnya desa Benjina dan desa-desa di Aru Tengah jelas-jelas lumpuh total, sehingga angka pengangguran melonjak naik,” ungkap WH, salah satu warga Desa Benjina, kepada BeritaKota Ambon, Senin (26/7).

Baca: Korban Dam Wai Ela Pertanyakan Bantuan Kemenpera

Menurut WH, saat PT. PBR masih beroperasi, pendapatan masyarakat setempat lumayan tinggi. Hasil kebun dan tangkapan nelayan lokal masih bisa dijual ke perusahan dengan cepat untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.

“Dulu ketika PT PBR masih beroperasi, kita petani dan nelayan lokal punya hasil dijual di perusahan laris manis. Tetapi saat perusahan tutup, pendapatan kami turun drastis,” sebutnya.

Hal senada ditambahkan warga Desa Benjina lainnya, Jhon. Dikatakan, Ia bersama warga lainnya turut merasakan dampak dari tidak beroperasinya PT. PBR. Pasalnya, saat PT. PBR masih beroperasi, para tukang kayu, tukang batu sangat gampang mendapat pekerjaan.

Namun saat perusahan itu ditutup akibat moratorium Menteri KKP RI saat itu, tak ada satupun pembangunan di sana. Sehingga para kuli bangunan terpaksa memilih mencari pekerjaan lain demi mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari.

“Kita tukang kayu, tukang batu yang saat itu tinggal di Desa Benjina kalau bilang kerja paling gampang. Karena banyak bangunan yang dikerjakan kala PT. PBR masih beroperasi. Tapi setelah perusahan tutup, kita paling susah dapat kerja. Jadi mau bagaimana lagi. Kita terpaksa cari kerja lain demi mencukupi kebutuhan keluarga,” tukasnya

Lanjut Jhon, bukan saja dirinya sebagai tukang kayu yang merasakan dampak yang sama, tetapi para pengemudi speedboat atau perahu juga merasakan hal yang sama.

“Coba bayangkan, kita hitung masyarakat lokal yang bekerja di PT. PBR kala itu sebanyak 1.000 orang. Kalau kita antar pulang pergi 1.000 orang ke perusahan dengan tarif 3000 rupiah per orang, berati pendapatan kita dalam satu hari cukup lumayan besar. Tapi ketika perusahan itu ditutup, ya pendapatan kita turun drastis. Terpaksa kendaraan laut yang kita pakai untuk ojek pun kita jual,” tuturnya.

Dirinya berharap, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru dan DPRD setempat selaku perpanjangan tangan masyarakat, bisa menghadirkan investor lain untuk mengoperasikan perusahan tersebut. Sehingga perekonomian masyarakat di daerah penghasil ikan terbesar itu bisa kembali normal.

“Kita samua harap, pemerintah daerah dan DPRD secepatnya cari investor lain untuk buka kembali PT. PBR. Karena kita petani, nelayan, tukang kayu, tukang batu, ojek laut dan 1.000 karyawan PT. PBR sudah paling menderita. Kita percaya kalau PT PBR dibuka, maka angka pengangguran di daerah ini akan berkurang dan perekonomian rakyat Aru akan kembali normal,” harapnya. (WAL)

Comment