by

Enam Tersangka Penjualan Senpi Siap Sidang

Ambon, BKA- Setelah diserahkan tahap II oleh penyidik Satreskrim Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease, enam tersangka penjualan senpi dan amunisi ke Papua resmi ditahan oleh penuntut umum kejaksaan negeri Ambon,Selasa (23/3). Mengingat berkas perkara dan tersangka sudah di lakukan tahap II, maka tidak lama lagi, enam tersangka itu sudah disidangkan di Pengadilan Negeri Ambon.

Keenam tersangka masing-masing Bripka SAP alias Sandro, Bripda MRA dua oknum anggota Polisi serta warga sipil SN alias Gadung alias Gadok, RMP, HM alias Ical dan AT alias Andi yang merupakan warga sipil.

“Pada Hari ini kejaksaan Negeri Ambon telah menerima enam tersangka kejahatan melanggara pasal 1 UU darurat tahun 1951 dan selanjutnya dalam penanganan perkara tersebut tersangka kita langsung lakukan penahanan selama 20 hari dan akan dilimpahkan ke pengadilan negeri Ambon,”jelas kepala kejaksaan Negeri Ambon, Dian Frits Nalle kepada wartawan di aula Kejari Ambon, Rabu (23/3).

Dia mengaku, terima kasih karena terjadi sinergitas baik antara penyidik dengan penuntut umum dalam penanganan perkara ini sehingga proses tahap II dari penyidik dan JPU berhasil dilaksanakan.
Kajari menyatakan, keenam tersangka ini dititipkan penahanannya di Rutan Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease.

Barang bukti yang diserahkan adalah satu HP, kartu ATM, tiga buku tabungan, satu sepeda motor Honda bead dengan STNK. Sementara barang bukti senpi senjata laras panjang rakitan menjadi barang bukti Polres Bintuni di Papua Barat dan senjata beberapa butir peluru dan senjara revover berada di Polres Bintuni.

Sebelumnya, enam tersangka dugaan penjualan senjata api (senpi) dan amunisi ke Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua terancam penjara seumur hidup.
Enam tersangka yang terdiri dari dua anggota Polri dan empat warga sipil tersebut sudah ditahan oleh penyidik Polresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease di back up Polda Maluku.

Tersangka dijerat dengan undang undang darurat, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1 Undang-Undang nomor 12 tahun 1951 dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup atau maksimal minimal 20 tahun penjara.

Hal ini disampaikan Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease, Kombes Pol Leo SN Simatupang dalam keterangannya didampingi Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol M Roem Ohoirat, Danpomdam XVI Pattimura Kolonel Com Jhony Paul Johannes Pelupessy, di Mapolresta Ambon, Selasa (23/2).
la menegaskan, para tersangka ini sudah resmi ditahan dan saat ini penyidik masih melakukan pengembangan.

“Keenam tersangka diganjar dengan UU Darurat nomor 12 tahun 1951, dengan ancaman hukuman maksimal hukuman mati, atau seumur hidup dan atau hukuman setinggi-tingginya adalah 20 tahun penjara. Semua sudah ditahan di Rutan Mapolresta Ambon. Pengembangan masih terus dilakukan,’ tandas Kapolresta.

Kapolresta membeberkan, kasus ini terungkap dari penangkapan tersangka awal oleh Polres Bintuni, Polda Papua Barat.
Penangkapan tersangka J beserta barang bukti diantaranya berupa satu pucuk senjata laras pendek, satu senjata laras penjang (rakitan) dan amunisi.(SAD)

Comment