by

FPK-Kalteng Adopsi Kerukunan Beragama dari Maluku

Ambon, BKA- Kerukunan antar umat beragama, menjadi salah satu faktor penentu kelangsungan pembangunan. Hal inilah yang mendasari Forum Pembauran Kebangsaan Provinsi Kalimantan Tengah (FPK-Kalteng) untuk mengadopsi kerukunan umat beragama dari Kota Ambon, Provinsi Maluku, lewat studi banding.

Rombongan FKP-Kalteng yang dipimpin Ketua DPRD Kalteng, Wiyatno itu, akan berada selama 3 hari di Kota Ambon. Kedatangan mereka, disambut hangat Sekretaris Daerah Maluku, Kasrul Selang.

Dalam kegiatan studi banding itu, dilakukan pertemuan bersama antar FPK Kalteng dengan FPK Maluku, yang berlangsung di lantai 7, kantor gubernur, Kamis (29/4).

Tujuannya, untuk menambah wawasan sebagai bahan kontribusi dalam upaya pembangunan mental, menjunjung tinggi toleransi, serta memperkokoh persatuan dan kesatuan.
Gubernur Maluku Murad Ismail, dalam sambutannya yang dibacakan Sekda, mengucapkan terima kasih dan merasa sangat terhormat atas dipercayakannya Maluku oleh Pemprov Kalteng, sebagai tempat studi banding Forum Pembauran Kebangsaan.
Pemprov Maluku, kata gubernur, menyambut gembira kedatangan FPK Kalteng dan rombongan. Harapannya, pertemuan FPK kedua provinsi itu, terjalin hubungan silaturahmi dalam merajut kebhinekaan, memperkokoh wawasan kebangsaan sebagai modal dasar pembangunan.

“Kami pastikan Maluku aman, nyaman dan damai saat ini. Silahkan bapak ibu jalan-jalan mengelilingi Kota Ambon,” tandasnya.
Dikatakan, bagi masyarakat Maluku, pembauran kebangsaan bukanlah sesuatu yang baru. Sejak masa lalu, masyarakat disini sudah hidup berbaur dengan orang-orang nusantara lainnya. Namun pembauran kebangsaan yang terjalin sejak lama itu, sedikit terusik dengan pecahnya konflik sosial bernuansa agama tahun tahun 1999 hingga 2003 silam.

“Syukur Alhamdulillah, masyarakat Maluku cepat menyadari situasi ini dengan dilandasi budaya Pela Gandong. Maka dengan semboyan orang Maluku yaitu Sagu Salempeng di Pata Dua, masyarakat Maluku kembali hidup rukun dan damai,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua FPK Maluku, John Ruhulessin, dalam paparannya mengenai gambaran umum kerukunan umat beragama di Maluku menjelaskan, sebagai pusat perdagangan dunia di masa lalu, masyarakat Maluku sudah menerima kedatangan bangsa-bangsa besar sejak lama. Seperti Arab, Portugis dan lainnya. Bahkan beberapa agama telah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Maluku.

“Sudah sejak lama masyarakat Maluku memiliki tradisi kekeluargaan yang sangat kuat. Tradisi Pela adalah yang cukup terkenal, bahkan memiliki ikatan marga yang mengakar. Salah satu contohnya, pengecoran gedung Gereja Imanuel Jemaat Negeri Galala (Beragama Kristen), melibatkan Pela-nya dari Negeri Hitu (Islam),” papar Ruhulessin.

Hal senada juga dijelaskan Ketua FPK Kalteng, Yohanes Freddy Ering. Dia mengatakan, di Kalteng juga pernah terjadi konflik etnis Dayak/Melayu dengan etnis Madura. Kerusuhan sempat menjalar ke berbagai kota. Namun konflik dapat diatasi berkat komitmen pemerintah, masyarakat dan seluruh komponen etnis dan agama.
Komitmen ini, lanjut dia, bisa dapat dilihat pada simbol keselarasan dan kerukunan warga Kalteng yakni Huma Betang. Huma Betang merupakan rumah besar yang dihuni banyak orang, dengan beragam agama dan kepercayaan, namun tetap rukun dan damai. Sehingga Huma Betang adalah sebuah simbol dan filosofi kehidupan masyarakat di Kalteng.

“Dengan filosofi Huma Betang ini, maka kami tidak pernah menolak kehadiran tamu dari mana saja untuk tinggal di rumah besar (Huma Betang), sejauh tamu tersebut mengikuti filosofi dimana langit dijunjung disitu bumi dipijak,” tutup Yohanes. (UPE)

Comment