by

Gelapkan Mobil, Hidayat Diganjar 2,2 Tahun

Ambon BKA- Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Ambon memvonis terdakwa kasus penggelapan mobil, Hidayat Palembang (46), dengan pidana penjara selama 2,2 tahun, pada persidangan yang berlangsung, Selasa (11/8).

Di dalam amar putusan majelis hakim menyebutkan, warga Dusun Bara, Desa Namlea, Kabupaten Buru, ini dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana penipuan, sebagaimana diatur dalam Pasal 378 KUHPidana.

“Menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana penipuan, sehingga menjatuhi pidana penjara kepada terdakwa selama 2,2 tahun penjara, di kurangi selama terdakwa berada dalam masa tahanan. Serta memerintahkan agar barang bukti milik korban dikembalikan dari terdakwa,” tandas Ketua Majelis Hakim, Feliks R. Wuisan.

Sebelumnya, JPU Kejati Maluku menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama empat tahun, serta dikurangi selama terdakwa berada dalam masa tahanan.

Kasus ini sesuai dakwaan JPU menyebutkan, terdakwa Hidayat Palembang (46), warga Dusun Bara, Desa Namlea, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku itu tertangkap pada Sabtu, 12 Januari 2019, sekitar pukul 10.00 WIT, di Jalan Dermaga Kota Namlea, Kabupaten Buru.

Awalnya, ketika terdakwa bersama Adisucipto (DPO) datang menemui saksi korban, Adi Yoana, membawa satu unit Mobil Hilux Doble Cabil dengan nomor polisi DE8834 di Kantor Cabang PT. Papua Citra Buana, Jalan Dermaga Kota Namlea, Rabu 12 Desember 2018, sekitar pukul 7.00 WIT.

Disana, terdakwa mengatakan akan menjual mobil karena sedang membutuhkan uang, dengan harga Rp 275 juta. Lalu korban mengatakan, tidak memiliki uang sebanyak itu. Korban hanya memiliki uang sebanyak Rp. 100 juta.

Terdakwa pun membolehkan korban mengambil mobil serta BPKP, dengan perjanjian harus melunasi sisanya pada Juli 2019.

Setelah mendengar penjelasan itu, saksi korban langsung menyerahkan uang kepada terdakwa sebesar Rp 100 juta. Terdakwa lalu menyerahkan STNK Asli, Buku Kir Asli serta dibuatkan berita serah terima kendaraan diatas meterai 6000 yang ditandatangani oleh terdakwa dan korban.

Korban menyadari, nama di STNK bukan milik terdakwa, melainkan nama orang lain, Timo Gozali. Dia pun menanyakan hal tersebut kepada terdakwa. Terdakwa menyatakan, sudah membelinya dari Timo. Terdakwa bahkan menawarkan diri akan mengurus pengalihan nama untuk saksi korban.

Selanjutnya, pada Selasa, 8 Januari 2019, terdakwa menelpon korban yang sedang berada di Jakarta. Terdakwa meminta kepada korban untuk mengirimkan sisa uang penjualan mobil tersebut sebesar Rp 175 juta. Namun dijawab oleh korban, akan melakukan pelunasan pada Juli 2019.

Karena mendapat desakan dari terdakwa, yang mengatakan membutuhkan uang untuk keperluan mendadak. Korban akhirnya mentransfer uang sebesar Rp 25 juta ke rekening terdakwa.

Pada 12 Januari 2019, terdakwa datang ke kantor korban untuk mengambil mobil. Saat itu, korban masih berada di Jakarta. Terdakwa mengambil kunci mobil, sambil mengatakan, uang yang sudah terbayar sebagai uang sewa mobil.

Atas kejadian tersebut, korban mengalami kerugian senilai Rp 200 juta. (SAD)

Comment