by

Gunung Botak Bakal Disasi

Ambon, BKA- Kawasan tambang emas di Gunung Botak, Kabupaten Buru, akan disasi oleh masyarakat adat setempat. Hal tersebut disampaikan Raja Petuanan Kayeli, Abdulah Wael, usai melakukan pertemuan dengan Kasat Intelkam Polres Pulau Buru, Iptu Sirilus Atajalim, Senin (5/4).

Para tokoh adat petuanan Kayeli tersebut dipanggil ke Polres Pulau Buru, untuk mengklarifikasi pertemuan yang dilakukan di Desa Dava, Kecamatan Waelata, dan persoalan masyarakat adat yang ingin membuka kembali tambang emas di Gunung Botak.

Rencana pemasangan sasi di Gunung Botak tersebut didukung Kasat Intelkam Polres Pulau Buru, Iptu Sirilus Atajalim, karena dalam rangka mendukung pengamanan pertambangan emas di Pulau Buru.

“Direncanakan melakukan aktivitas sasi besar-besaran dari sisi adat. Sasi adalah untuk melakukan segala sesuatu atau melarang segala sesuatu yang melakukan aktivitas di Gunung Botak,” kata Wael.

Jika sudah disasi, Abdulah mengatakan, sanksi yang diberikan tidak akan pandang bulu. Siapapun dia, termaksud TNI maupun anggota kepolisian, kalau melanggar akan dikenakan sanksi.

“Apapun persoalannya, siapa pun dia orangnya yang sengaja melanggar dari aturan sasi tersebut, maka dia akan dikenakan sanksi denda adat seberat-beratnya. Sekali pun dia itu adalah TNI dan kepolisian, kami akan tetap menjatuhkan hukuman sanksi kepada yang bersangkutan,” ungkapnnya.

Menurut Wael, sasi yang akan dilakukan masyarakat adat tersebut sebagai bentuk dukungan masyarakat adat kepada aparat keamanan, dalam rangka mengamankan tambang emas Gunung Botak.

“Olehnya itu, saya cuman menyapaikan program demikian untuk membantu TNI Polri, dalam melakukan aktivitas keamanan di Gunung Botak,” ujar dia.

Dengan adanya sasi, dia beraharap, nantinya tidak ada lagi saling curiga antara satu sama lain, maupun tuduhan terhadap pihak keamanan terkait aktivitas pertambangan emas ilegal di Gunung Botak.

“Semoga hari besok, tidak ada lagi kesenjangan, kecurigaan diantara orang-orang yang tidak bertanggung jawab, hingga menuduh TNI Polri yang melakukan aktivitas secara tersembunyi di dalam Gunung Botak,” kuncinya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Buru, Iptu Handry Dwi Azhari, mengatakan, kegiatan penyisiran di Gunung Botak yang dilakukan 3 April 2021 lalu, pukul 14.30 Wit, merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh Polres Pulau Buru.

“Untuk kegiatan penyisiran itu merupakan kegiatan rutin yang kita selalu laksanakan,” kata dia.

Dalam penertiban tersebut, anggota Polres Pulau Buru menemukan barang-barang milik penambang, yang kemudian dimusnahkan dengan cara dibakar.

“Memang kemungkinan besar ada indikasi kesana, tapi jumlahnya tidak besar. Dan ini memang sifatnya, masyarakat yang kucing-kucingan atau sembunyi-sembunyi. Jadi pada saat melakukan kegiatan di sana, kita melakukan disposal dan memang jumlahnya tidak terlalu besar, mungkin hanya satu dua titik saja yang ditemukan bekas. Jadi memang bukan baru-baru ada kegiatan, tapi memang beberapa titik itu bekas-bekas lama, akhirnya kami disposal,” ucap Handry.

Ia menjelaskan, dalam penertiban yang dilakukan itu, tidak ada penambang yang diamankan. “Pada saat pelaksanaan kegiatan penyisiran kemarin itu, kita tidak ada atau belum ada kita mengamankan orang maupun barang bukti yang kita temukan disana,” tegasnya.

Tambahnya, sejak ditutup pada 2015 lalu, pertambangan emas di Gunung Botak belum ada izin kembali oleh pemerintah pusat hingga saat ini. Karena itu, jika ada masyarakat yang melakukan aktivitas pertambangan ilegal, maka akan diproses secara hukum.

“Memang secara hukum positif, disana belum ada izin yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk bisa melakukan kegiatan pertambangan emas, baik secara adat maupun negara. Karena kita berada di negara hukum ya, kita condong ke peraturan yang berlaku di negara kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya. (MSR)

Comment