by

Harga Cengkeh Anjlok, Mahasiswa Ribut di DPRD

Ambon, BKA- Harga cengkeh di pasar dunia saat ini anjlok, sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 52 ribu per kilogram. Sementara harga rokok yang bahan bakunya dari cengkih, terus merangkak naik.

Hal itu membuat petani cengkeh di Maluku meradang. Apalagi kondisi ekonomi saat ini dalam keadaan sulit, ditengah pandemi Covid-19.

Menindaklanjuti anjloknya harga cengkih dan keluhan petani, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam LSM Pemuda Mandiri Peduli Rakyat Indonesia (PMPRI) Maluku “ribut” di Kantor DPRD Maluku, Karang Panjang, Senin(2/11).

Kedatangan mereka di lembaga politik itu dengan harapan, dapat memperjuangkan harga komoditas yang menjadi unggalan Maluku dapat dinaikkan.

Puluhan mahasiswa yang notabene dari Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), tiba di Kantor DPRD Maluku sekitar pukul 12.30 Wit, dengan mendapat pengawalan aparat kepolisian.

Menurut mereka, hampir sebagian besar masyarakat di Kabupaten SBB memiliki ratusan ribu pohon cengkih. Namun saat ini, mereka mengeluh karena harga cengkih anjlok.

Herannya, pemerintah daerah maupun lembaga legislatif seakan tidak peduli dengan kondisi tersebut. Padahal Maluku sudah dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah, termasuk cengkih.

“Sejak harga cengkih turun, tidak ada kepedulian dari pemerintah dan dewan untuk memperjuangkan harga cengkeh naik. Padahal di Surabaya, harga Cengkeh per kilogram Rp 90 ribu. Harga Cengkih di Kota Ambon hanya Rp 50 ribu,” papar salah satu pendemo.

Sehingga mereka berharap, para wakil rakyat tidak tinggal diam. “Dewan harus utamakan kepentingan rakyat. Jangan diam saja. Kami ini anak petani cengkih. Para petani cengkeh menjerit. Padahal masyarakat menaruh harapan besar agar mendapat kepedulian dari para legislatif, khsusunya terwakilan dari dapil SBB,” lanjutnya.

Setelah beberapa saat melakukan orasi, pendemo yang dipimpin Salman Patty selaku koordinator aksi itu melakukan tatap muka dengan Ketua Komisi III DPRD Maluku, Richard Rahakbauw, yang ditemani oleh salah satu Wakil Ketua Komisi II, Temy Oersipuny, di ruang Komisi III.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisis III DPRD Maluku, Richard Rahakbauw, berjanji akan berkoordinasi dengan Komisi II untuk menindaklanjuti apa yang menjadi tututan masyarakat SBB, sesuai aspirasi yang disampaikan mahasiswa.

“Saya juga baru dengar, kalau harga cengkih turun harga. Dan itu, kami juga akan lakukan koodinasi dengan pihak Pertanian dan Indag, meskipun ini nantinya akan menjadi tugas dan kewengan Komisi II. Tapi saya tetap akan mengawal hal ini, agar persoalannya dapat segera ditindak lanjuti. Jadi nanti Komisi II juga akan panggil adik-adik, agar nanti bisa rapat bersama dengan dinas terkait untuk membahas semua yang menjadi persoalan yang ada di masyarakat, baik itu persoalan harga cengkih maupun pembongkaran hutan untuk dijadikan area perkebunan cacao dan pala,” pungkasnya. (RHM)

Comment