by

Hasil Visitasi 50 Sekolah Terancam Anjlok

beritakotaambon.com – Hasil verifikasi, validasi, dan klarifikasi (visitasi) yang dilakukan tim assesor Badan Akreditasi Nasional Sekolah dan Madrasah (BAN-S/M) sepanjang tahun 2020 terhadap 50 sekolah/madrasah di Maluku, terancam anjlok.

Ketua BAN-S/M Provinsi Maluku, Dr. Abidin Wakano, mengungkapkan, memang hasil visitasi terhadap 50 sekolah itu belum keluar.

Baca juga: Gelorakan Inovasi Daerah, LAN Beri Dukungan

Namun indikasi anjloknyanya hasil visitasi itu dapat tergambar dari kondisi pendidikan saat ini, yang berjalan ditengah pandemi Covid-19. Sehingga bisa dipastikan terjadi penurunan mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia, termasuk di Maluku.

Selain kemungkinan anjloknya hasil akreditasi sekolah, katanya, pandemi Covid-19 juga mempengaruhi jumlah sekolah dan madrasah yang mengikuti akreditasi selama tahun 2021.

Seharusnya, ujar Abidin, terdapat 283 sekolah atau madrasah yang mengikuti proses akreditasi di tahun ini. Tapi nyatanya, proses tersebut hanya diikuti oleh 50 sekolah dan madrasah. Rata-rata sekolah swasta.

“Tahun ini hanya ada 50 sekolah dan madrasah di Maluku, terlebih khusus pulau Ambon, Maluku Tengah (Maltang) dan Seram Bagian Barat (SBB). Angka ini cukup minim sekali dari tahun-tahun sebelumnya,” ungkapnya.

Selain dampak pandemi Covid-19, katanya, kurangnya sekolah peserta akreditasi juga dipengaruhi oleh sistim online yang digunakan oleh assesor dalam proses visitasi. Ada juga yang turun langsung ke sekolah.

Baca juga: PTM Diprediksikan Aktif di 2022

Memang untuk saat ini, lanjutnya, proses akreditasi diprioritaskan bagi sekolah yang belum pernah mengikuti akreditasi, atau sudah pernah akreditasi tapi tidak lulus.

Minimnya jumlah sekolah peserta akreditasi juga dipengaruhi oleh sistem dashboard monitoring yang digunakan BAN Pusat. Dengan sistem ini, sekolah yang telah mengikuti akreditasi, kalau sesuai monitoring mengalami penurunan kualitas, maka langsung diakreditsi ulang. Tapi kalau hasilnya sama, maka otomatis akan dilakukan perpanjangan akreditasi.

“Dengan adanya sistim dashboard monitoring ini, tim asesor tidak lagi melakukan visitasi terhadap sekolah, karena semuanya sudah terbaca di sistim. Jika sekolah dengan status B, tapi hasil dashboard monitoring naik, tapi tidak mengajukan kenaikan statusnya menjadi A, maka statusnya tetap B. Sehingga pihak sekolah harus memantau terus sistimnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, penilaian capaian akreditasi sekolah maupun madrasah, bukan hanya lewat BAN atau dashboard monitoring, tapi masyarakat juga bisa langsung memberi penilaian lewat layanan surat ke BAN Pusat.

“Masyarakat juga bisa lapor ke BAN Pusat terhadap penilaian satu sekolah, sehingga bisa dilakukan reakreditasi ulang terhadap sekolah itu, jika dalam sistim mengajar tidak betul dan lain-lainya. Sehingga BAN disini melakukan visitasi ulang setelah mendapat arahan dari BAN Pusat,” bebernya.

Sementara indikator penilaian akreditasi, menurut BAN meliputi tiga kategori, yakni, manajemen pengelolaan S/M, mutu guru dan mutu lulusan.

Baca juga:
PTM Terbatas Berjalan Lancar

“Kalau kami d BAN ini kan hanya menilai, bukan peningkatan mutu. Tapi kami ibaratnya BPK yang mengaudit, dengan memberikan penilaian saja,” pungkasnya.(RHM)

Comment