by

Hehuat Minta Balik ke Negeri Tawiri

Ambon, BKA- Puluhan tahun keluar dari negeri Tawiri, kecamatan Teluk Ambon, Keluarga Besar Hehuat minta Pemerintah Negeri Tawiri untuk mengakomodir mereka sebagai anak adat negeri Tawiri. Persoalan ini, akhirnya dibawa ke Komisi I DPRD Kota Ambon untuk dimediasi.

Rapat mediasi itu, turut melibatkan Keluarga Besar Marga Hehuat, Saniri Negeri Tawiri, Bagian Tata Pemerintahan Pemkot Ambon dan stakeholder lainnya. Dimana sesuai kesimpulan rapat, diberikan waktu satu bulan bagi Pemerintah Negeri Tawiri dan Keluarga Hehuat akan menyelesaikan persoalan tersebut dan dipantau Pemerintah Kota.

“Jadi Keluarga Helhuat ini mereka sudah keluar dari Tawiri lama. Lalu sudah dianggap tidak ada lagi, tapi dalam renstra negeri Tawiri ada (marga Helhuat), sudah lama. Jadi mereka menyurati agar ada mediasi, sehingga mereka diakui kembali sebagai anak negeri Tawiri,” ungkap Ketua Komisi I DPRD Kota Ambon, Zeth Pormes, kepada wartawan di gedung DPRD Ambon Belakang Soya, Kamis (5/11).

Politisi Golkar ini menilai, sesuai hasil mediasi tersebut, dalam sejarah negeri Tawiri, turunan marga Hehuat juga tercatat pernah memerintah di negeri Tawiri. Sehingga keluarga Helhuat juga meminta agar dimasukan dalam Mataruma Parentah.

“Dalam sejarah, turunan mereka juga pernah memerintah. Mungkin bisa diakomodir sebagai salah satu Matarumah Parentah. Jadi rapat tadi memutusakan, terkait dengan masalah ini kita rekomendasikan Pemkot Ambon untuk lakukan medisiasi 1 bulan. Antara keluarga Hehuat dan Saniri Negeri Tawiri. Supaya apa yang menjadi tuntutan mereka itu, bisa dibicarakan secara semangat kekeluargaan dan hidup orang Basudara,” harapnya.

Disinggung soal respon pihak Saniri Negeri Tawiri, Pormes mengaku, sebelumnya Saniri Negeri Tawiri menolak hal tersebut. Namun setelah dibicarakan kembali, pihak Saniri kemudian membuka diri untuk kembali mendudukan persoalan ini.

“Saniri Negeri Tawiri awalnya mereka menolak lewat surat Saniri. Tapi kemudian kita bicara dari hati ke hati dan mereka siap untuk kembali duduk bersama. Karena mereka ini kan saudara satu kampung. Tapi karena marha Hehuat ini sudah keluar sekitar 80 tahun lebih dari negeri Tawiri. Jadi mereka ingin kembali, dan mereka itu memilik hak wilayah,” terang Pormes.

Dikatakan, sesuai penjelasan Saniri Negeri tawiri, marga Hehuat di tahun 1950 sudah dianggap tidak ada. Namun ketika diminta surat terkait hal terebut, katanya sudah tidak ada. Sehingga Komisi akan terus memantau proses mediasi lewat Pemerintah Kota antara marga Hehuat dengan Saniri Negeri Tawiri.

“Saya minta tadi dari Saniri Negeri (bukti surat tertulis), tapi tidak ada. Jadi ini kan soal moral saja. Tapi Komisi akan tetap pantau selama satu bulan dalam tahap medisiasi yang dilakukan. Kita harap, mereka saling mengakui dan menerima. Karena benar mereka (Keluarga Hehuat), adalah orang Tawiri,” pungkasnya. (UPE)

Comment