by

Hena Hetu Dukung Kebijakan Gubernur

Ambon, BKA- Organisasi adat Jazirah Leihitu, DPP Hena Hetu mendukung penuh kebijakan Gubernur Maluku, Murad Ismail dalam membangun Maluku. Hal ini ditegaskan Juru Bicara DPP Hena Hetu Maluku, Rauf Pelu saat menghubungi koran ini, Minggu (27/12)

“Publik harus tahu, tak ada Gubernur yang mau melihat rakyatnya mati menderita. Apapun kebijakan gubernur, tak lain untuk rakyat dan daerahnya yang baik. Di Maluku, Hena Hetu mendukung dan siap mengawal setiap kebijakan pak Murad,” tandas Rauf.

Dijelaskan, kebijakan Pemerintah Provinsi Maluku yang melakukan peminjaman Rp 700 miliar dari pihak ke tiga, sangatlah tepat dilakukan untuk pemulihan ekonomi. Sebab, di tengah pandemi Covid-19, seorang gubernur memiliki tugas tugas untuk melihat daerah dan rakyatnya. Dan merupakan sebuah kesalahan ketika daerah dalam kondisi terpuruk dan didiamkan oleh kepala daerah.

“Jadi bukan soal 700 miliar ini saja, setiap kebijakan Gubernur Murad akan didukung dan dibackup Hena Hetu,” cetusnya.

Dikatakan, Maluku pernah dalam posisi defisit anggaran sebesar Rp 300 juta lebih di masa kepemimpinan gubernur Said Assagaff. Namun setelah Murad terpilih menggantikan Assagaff, defisit itu kemudian diselesaikan hanya dalam waktu hampir dua tahun.

“Itu berarti pak Murad serius melihat Maluku. Belum lagi komunikasinya dengan Menteri DKP terkait LIN, dan komunikasi lainnya. Jadi kalau ada menyinggung soal kebijakan pak Murad, mungkin mereka itu ingin diperhatikan,” singgungnya.

Disinggung soal DPD Golkar Maluku yang mempolisikan Gubernur Murad akibat dari caci maki yang dilontarkan beberapa waktu lalu, Alumnus Fakultas Hukum Universitas Darussalam (Unidar) Ambon itu menegaskan, Hena Hetu tetap di belakang Murad.

“Kita akan tetap ada untuk pak Murad. Sebab sudah menjadi kewajiban bagi Hena Hetu untuk melindungi orang dari Jazirah Leihitu,” tukasnya.

“Beta (saya) mau bilang, orang Ambon caci maki persis pak Murad ucapkan itu sudah tidak asing di telinga. Kalimat itu baik pejabat dan lainnya termasuk juga wartawan sering baku sengaja, kalimat ini keluar. Bedanya memang karena Pak Murad hanya ucapkan di publik. Tapi kami Hena Hetu tetap ada untuk pak Murad,” tutup Rauf. (UPE)

Comment